Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Harga Minyak Dunia Dekati Level Tertinggi Akibat Ketegangan AS–Iran

Meningkatnya ketegangan AS dan Iran menyebabkan harga minyak mentah dunia kembali berada di level tertinggi

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
Ringkasan Berita:
  • Harga minyak dunia mendekati level tertinggi enam bulan dipicu ketegangan AS–Iran dan kekhawatiran gangguan pasokan Timur Tengah.
  • Risiko Selat Hormuz mengancam inflasi global serta menekan pasar negara berkembang.
  • Meski pasokan masih relatif cukup, pasar tetap waspada eskalasi konflik.

 

TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak mentah dunia kembali berada di level tertinggi dalam enam bulan terakhir, dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terus menjadi fokus pasar energi global.

Lonjakan harga mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah yang berasal dari wilayah Timur Tengah, sekaligus menunjukkan sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik yang terus bergejolak.

Pada perdagangan Jumat, crude Brent, patokan harga minyak global, berada di sekitar $70,69 per barel, mendekati level tertinggi sejak awal Agustus tahun sebelumnya.

Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) juga menunjukkan penguatan signifikan meskipun sempat terkoreksi tipis, mengutip economictimes.

Pasar dipengaruhi oleh kekhawatiran bahwa konflik antara AS dan Iran dapat menyebabkan gangguan pasokan dari wilayah Teluk Persia.

Analis menyatakan bahwa sentimen pasar tetap dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, yakni ancaman potensi serangan militer AS terhadap Iran yang dipandang dapat memicu reaksi keras dari Teheran.

Rekomendasi Untuk Anda

Di sisi lain, sinyal adanya kemungkinan dialog antara kedua negara sempat menahan laju kenaikan harga, meskipun ketidakpastian masih dominan.

Konteks Ketegangan AS–Iran dan Implikasi Global

1. Ancaman Gangguan Pasokan Energi di Selat Hormuz

Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudera India — melalui mana sekitar 20 persen dari pasokan minyak dunia diperdagangkan — kini berada di bawah tekanan geopolitik.

Ancaman Iran untuk menutup atau mengganggu jalur ini jika konflik meningkat menjadi sorotan pasar global karena konsekuensi langsungnya terhadap pasokan energi dunia.

Baca juga: Iran Balas Labeli Pasukan Militer Uni Eropa sebagai Organisasi Teroris

Blokade atau gangguan pada selat ini diperkirakan akan menyebabkan harga minyak melonjak tajam, bahkan melewati $100 hingga $130 per barel dalam skenario terburuk tertentu seperti penutupan penuh atau konflik berkepanjangan, dilansir The Daily Star.

2. Risiko Ekonomi Makro dan Inflasi

Kenaikan harga minyak yang tajam berpotensi menimbulkan dampak inflasi yang signifikan, terutama di negara-negara importir energi.

Model ekonomi menunjukkan bahwa jika harga minyak melonjak ke level ekstrem (misalnya di atas $100 per barel), tekanan inflasi di negara maju seperti AS bisa meningkat secara substansial, bahkan menghambat kemungkinan penurunan suku bunga oleh bank sentral.

3. Dampak di Pasar Keuangan dan Pasar Berkembang

Selain sektor energi, pasar saham dan mata uang di negara berkembang mengalami tekanan akibat ketidakpastian geopolitik. Indeks saham Asia cenderung melemah, dan mata uang seperti rupiah berpotensi tertekan jika investor global mencari aset aman seperti dolar AS.

Di beberapa negara, obligasi pemerintah turut mengalami volatilitas akibat kekhawatiran terhadap risiko ekonomi global.

4. Sanksi dan Tekanan Ekonomi

AS telah memperkenalkan sanksi baru terhadap Iran, termasuk terhadap pejabat tinggi pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan ekspor minyak Iran.

Langkah ini memperdalam tekanan terhadap ekonomi Iran dan semakin memperumit prospek perdagangan energi global.

5. Upaya Diplomasi dan Respon Regional

Negara-negara Arab di kawasan Teluk — termasuk Arab Saudi dan Qatar — menyerukan pengekangan eskalasi konflik untuk mencegah destabilitas regional.

Mereka menekankan bahwa konflik yang meluas akan mengancam produksi minyak dan keamanan energi global.

Pihak Iran, meskipun menunjukkan keterbukaan pada dialog, juga mempertegas kesiapan menghadapi kemungkinan perang jika target nuklirnya ditekan.

Pasar Tetap Waspada Meski Ada Katalis Penahan

Meski risiko geopolitik tinggi, sejumlah faktor tetap menjadi katalis penahan kenaikan harga minyak, termasuk:

  • Pasokan minyak global yang relatif surplus meskipun faktor geopolitik meningkat.
  • Output minyak AS yang pulih setelah gangguan produksi akibat cuaca ekstrem.
  • Penguatan nilai dolar AS, yang membuat harga minyak berdenominasi dolar lebih mahal bagi pembeli dalam mata uang lain.

Analis pasar memperkirakan bahwa jika pasokan tetap kuat dan eskalasi konflik tidak memicu gangguan fisik terhadap aliran minyak, harga minyak akan tetap berada dalam rentang yang cukup terbatas — tetapi tetap tinggi dibanding level historis jangka pendek, dikutip dari reuters.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas