Bocah SD di Lombok Tewas setelah Ikut Tren Freestyle, Ini Penjelasan Sekolah
Siswa SD di Lombok Timur meninggal usai diduga cedera akibat aksi freestyle di rumah, sekolah imbau orang tua awasi anak.
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Kabar duka menyelimuti Desa Lenek Baru, Lombok Timur. Nizan (10), murid kelas 1 SD, meninggal setelah diduga cedera akibat aksi freestyle di rumah.
- Pihak sekolah menegaskan insiden tidak terjadi di sekolah.
- Korban sempat dirawat di RSUD NTB sebelum meninggal. Sekolah imbau orang tua awasi anak di rumah
TRIBUNNEWS.COM - Kabar duka menyelimuti warga Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Seorang murid kelas 1A sekolah dasar bernama Nizan meninggal dunia setelah diduga mengalami cedera akibat aksi freestyle di rumahnya.
Peristiwa tersebut sempat menjadi perhatian publik setelah beredar informasi di media sosial yang menyebut korban mengalami cedera saat kegiatan olahraga di sekolah.
Namun pihak sekolah menegaskan kejadian itu tidak terjadi di lingkungan sekolah.
Wali kelas 1A, Sakiatun Nisa, mengatakan pihak sekolah sejak awal mengetahui korban cukup sering tidak masuk sekolah.
“Saya tanyakan kepada kakaknya yang di kelas 5 kenapa adiknya jarang masuk. Dijawab karena sering telat bangun dan lebih sering main HP di rumah,” ujar Sakiatun saat ditemui Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, korban diasuh oleh kakek dan nenek karena kedua orang tuanya bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).
Beberapa hari kemudian, pihak sekolah mendapat informasi bahwa korban mengalami demam dan sakit kepala.
Tak lama berselang, sekolah menerima kabar bahwa korban dirujuk ke RSUD Selong sebelum dipindahkan ke RSUD Provinsi NTB karena kondisi kesehatannya memburuk.
“Kita kaget, tiba-tiba anak ini dirujuk ke RSUD Provinsi NTB, karena kami tidak mengetahui sakitnya apa,” katanya.
Baca juga: Viral Pemotor Freestyle di Sarinah, Pimpinan Komisi III DPR: Bahaya Kalau Ring 1 Bisa Kecolongan
Para guru kemudian menggalang bantuan dan menjenguk korban di rumah sakit. Namun mereka hanya diperbolehkan melihat dari luar ruang ICU.
“Saya sebagai wali kelas hanya bisa melihat dari pintu. Wajahnya biasa saja, hanya kepala yang dibalut perban dan tangannya terpasang infus,” ujarnya.
Korban sempat dipindahkan ke ruang rawat inap sebelum kondisinya kembali menurun. Pihak sekolah kemudian mendapat kabar bahwa korban harus menjalani operasi kedua.
“Di operasi kedua itulah dia meninggal,” tutur Sakiatun.
Pihak sekolah menegaskan tidak pernah mengetahui ataupun melihat korban melakukan aksi freestyle di lingkungan sekolah. Menurutnya, insiden diduga terjadi di rumah korban.
Baca tanpa iklan