Araghchi: Jika Mau Negosiasi, AS Harus Berhenti Ancam Iran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebut jika mau melanjutkan negosiasi, AS harus berhenti ancam Iran. Sebut Iran siap membalas jika di serang.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Iran mengingatkan AS untuk menghilangkan ancaman militer terlebih dahulu, jika ingin melanjutkan perundingan tentang perjanjian nuklir.
- Iran juga memperingatkan AS, Teheran akan membalas setiap serangan di wilayahnya.
- Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanannya terhadap Iran dalam beberapa minggu terakhir, memaksa Iran untuk kembali berunding dan mengancam dengan opsi militer jika kekerasan terhadap demonstran anti-pemerintah tidak dihentikan.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Iran selalu siap menempuh jalan diplomasi dan tetap terbuka untuk negosiasi, asalkan Amerika Serikat (AS) meninggalkan ancaman dan paksaan terhadap negaranya.
Ia juga memperingatkan, setiap serangan baru AS terhadap Iran akan disambut dengan respons yang mengejutkan dan dahsyat.
“Kami sama sekali tidak bersedia menerima dikte atau pemaksaan,” kata Araghchi dalam konferensi pers saat kunjungan ke Istanbul bersama Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Jumat (30/1/2026).
“Namun demikian, Iran siap berpartisipasi dalam proses diplomatik apa pun yang bermakna, logis, dan adil," lanjutnya.
Dia kemudian mengingat serangan AS terhadap Iran pada Juni tahun lalu, yang dilancarkan saat pembicaraan tidak langsung sedang berlangsung, sebagai pelanggaran kepercayaan besar.
Menteri luar negeri itu mengatakan AS harus terlebih dahulu menghilangkan suasana ancaman dan menunjukkan ketulusan.
"Jika AS benar-benar menginginkan diplomasi yang serius, AS harus menghilangkan ketidakpercayaan, mereformasi pendekatannya, dan menjamin tidak akan ada serangan atau ancaman baru," katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Iran selalu terbuka untuk opsi diplomasi, jika AS ingin melanjutkan perundingan tentang perjanjian nuklir.
"Iran tetap siap untuk negosiasi yang adil dan seimbang yang dibangun di atas kepercayaan timbal balik yang tulus," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Araghchi menggambarkan pembicaraannya dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dan Presiden Recep Tayyip Erdogan sebagai sangat baik, menyoroti peran konstruktif Ankara dan ikatan kuat antara kedua negara.
Baca juga: Belum Lama Minta Trump untuk Tak Serang Iran, Kini Arab Saudi Bak Beri Lampu Hijau
Ia mencatat, Turki secara terbuka mendesak Washington untuk menyelesaikan masalah melalui dialog, dan Iran memandang upaya Ankara secara positif.
Ketika ditanya tentang potensi pertemuan trilateral yang melibatkan Donald Trump, Erdogan, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menteri tersebut mengatakan masih ada jalan panjang sebelum pembicaraan bersama yang serius dapat dimulai.
Ia menekankan prasyarat, format, dan isi harus disepakati terlebih dahulu.
Mengenai kemungkinan agresi AS yang diperbarui, Araghchi memperingatkan bahwa Iran lebih siap setelah perang 12 hari, dengan rudal balistik yang telah ditempatkan dan pertahanan yang diperkuat.
"Jika serangan terjadi, Iran pasti akan memberikan respons yang mengejutkan dan sangat kuat," katanya, sambil menyatakan harapan bahwa rasionalitas akan menang dan diplomasi berhasil.