Rafah Dibuka Kembali, Aktivitas Perbatasan Gaza–Mesir Kembali Ramai
Penyeberangan Rafah kembali dibuka secara terbatas. Warga Gaza menanti evakuasi medis di tengah pengawasan ketat Israel dan UE.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Pembukaan kembali penyeberangan Rafah membuat aktivitas perbatasan Gaza–Mesir kembali ramai di bawah pengawasan Uni Eropa.
- Israel membuka Rafah secara terbatas dengan kuota evakuasi medis yang dinilai belum mencukupi kebutuhan warga Gaza.
- Sekitar 20.000 warga Palestina masih menunggu evakuasi di tengah sistem kesehatan Gaza yang runtuh.
TRIBUNNEWS.COM - Rafah di Jalur Gaza kembali ramai aktivitas setelah penyeberangan Rafah yang menghubungkan Gaza dan Mesir resmi dibuka kembali secara terbatas, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (1/2/2026).
Di pos perbatasan Rafah, petugas keamanan Palestina terlihat melintasi gerbang Mesir menuju sisi Gaza untuk bergabung dengan misi Uni Eropa yang mengawasi keluar-masuk warga.
Pembukaan kembali Rafah menjadi langkah penting seiring kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat memasuki fase kedua, melansir Al Jazeera.
Fase kedua kesepakatan tersebut mencakup rencana pembentukan komite Palestina baru untuk memerintah Gaza, pengerahan pasukan keamanan internasional, pelucutan senjata Hamas, serta dimulainya proses pembangunan kembali wilayah itu.
Sebelum perang Israel di Gaza, Rafah merupakan jalur utama keluar-masuk warga Palestina.
Meski Gaza memiliki empat penyeberangan lain, jalur-jalur tersebut berada di bawah kendali Israel yang memberlakukan pembatasan ketat terhadap pergerakan orang dan bantuan kemanusiaan, mengutip laporan Al Jazeera.
Baca juga: Prabowo hingga Menlu RI Bilang Board of Peace demi Gaza, PM Israel Ngeyel Tak Ada Negara Palestina
Mesir selama ini menegaskan penyeberangan Rafah harus tetap terbuka bagi pergerakan warga Gaza, di tengah kekhawatiran Israel dapat memanfaatkan jalur tersebut untuk mendorong pengusiran warga Palestina dari wilayahnya.
Kepala bagian bedah Fajr Global, Dr Mohammed Tahir, mengatakan pembukaan Rafah akan menjadi “jalur kehidupan” bagi warga Gaza, terutama untuk evakuasi medis puluhan ribu korban luka, dikutip dari Al Jazeera.
Menurut Tahir, sistem kesehatan Gaza telah runtuh, sehingga banyak pasien politrauma terabaikan secara medis.
Ia menyebut lebih dari 1.000 pasien meninggal dunia saat menunggu evakuasi antara akhir Juli hingga November 2025.
Namun, Tahir menilai pembatasan evakuasi sekitar 150 orang per hari yang diizinkan Israel “bahkan belum menyentuh kebutuhan sebenarnya” dan hanya bersifat simbolis.
Sementara itu, surat kabar Israel Haaretz melaporkan warga Gaza diperkirakan belum bisa melintasi Rafah pada hari pertama pembukaan karena masih dilakukan pemeriksaan sistem dan uji coba model operasi awal bersama Mesir dan Uni Eropa.
Badan militer Israel COGAT menyatakan penyeberangan Rafah dibuka hanya untuk lalu lintas terbatas bagi warga Palestina yang telah mendapatkan persetujuan keamanan Israel sebelumnya, mengutip pernyataan resmi COGAT.
Israel menyebut tahap awal ini merupakan program percontohan sebelum perlintasan penuh diberlakukan, dengan kuota sekitar 150 orang keluar Gaza dan 50 orang masuk setiap hari.
Menurut Al Jazeera, sekitar 20.000 warga Palestina saat ini membutuhkan evakuasi medis mendesak. Dengan pembatasan tersebut, proses evakuasi diperkirakan dapat memakan waktu hingga beberapa tahun.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan