Misteri Keberadaan 11 Ton Uranium Iran yang Terkubur di Dalam Tanah
Hingga hari ini, keberadaan persediaan 11 ton Uranium Iran masih belum pasti, bahkan dua bulan setelah AS melancarkan serangan militer
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Misteri Keberadaan 11 Ton Uranium Iran yang Terkubur di Dalam Tanah
TRIBUNNEWS.COM - Sejak delapan tahun lalu, ketika Donald Trump memutuskan Amerika Serikat (AS) menarik diri dari perjanjian nuklir penting dengan Teheran, Iran diperkirakan telah membangun persediaan uranium yang diperkaya sebanyak 22.000 pon, atau sekitar 11 ton.
Namun, hingga hari ini, keberadaan persediaan tersebut masih belum pasti, bahkan dua bulan setelah AS melancarkan serangan militer yang berdalih untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Baca juga: Rusia Cari Celah di Tengah Perang AS-Iran, Mengapa Putin Menginginkan Uranium Iran?
Penjelasan Singkat Soal Pengayaan Nuklir
Uranium adalah material dengan dua fungsi.
Pada tingkat pengayaan rendah, uranium digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir dan pembangkit listrik kota.
Pada konsentrasi yang lebih tinggi, yang dicapai melalui proses yang dikenal sebagai pengayaan, uranium menjadi cocok untuk senjata nuklir.
Hal yang membuat pengayaan sangat mengkhawatirkan adalah bagaimana proses tersebut dipercepat.
Peralihan dari uranium alami ke pengayaan 20 persen jauh lebih sulit daripada beralih dari 20 persen ke 60 persen, atau bahkan ke 90 persen, tingkat yang biasanya digunakan dalam senjata nuklir.
Upaya AS Mengekang Iran Soal Pengayaan Nuklir
Iran mulai memperkaya uranium dalam skala industri pada tahun 2006, dengan tetap menyatakan bahwa programnya bersifat damai.
Seiring waktu, laporan dari Badan Energi Atom Internasional mendokumentasikan peningkatan persediaan yang terus-menerus.
Pada tahun 2010, Teheran mengumumkan akan memperkaya uranium hingga 20 persen, secara resmi untuk bahan bakar reaktor penelitian.
Tingkat ini menandai ambang batas kritis, garis pemisah resmi antara penggunaan sipil dan militer.
Kekhawatiran muncul karena pengayaan 20 persen mewakili sekitar 80 persen dari proses menuju bahan bakar kelas bom.
Seiring dengan bertambahnya persediaan, pemerintahan AS saat itu di bawah Barack Obama memulai negosiasi untuk mengekang program nuklir Iran.
Pembicaraan tersebut mencapai puncaknya pada 2015, yang menghasilkan kesepakatan nuklir.
Baca tanpa iklan