Mengenal Rudal S-500 Prometheus Milik Rusia, Resmi ‘Tugas Tempur’
Sistem Rudal S-500 Prometheus Rusia dirancang untuk mencegat rudal balistik jarak menengah.
Penulis:
garudea prabawati
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Rusia resmi mengoperasikan rudal S-500 Prometheus ke dalam tugas tempur pada Desember 2025, memperkuat pertahanan strategisnya dalam perang melawan Ukraina dan menghadapi ancaman udara canggih.
- S-500 memiliki kemampuan tinggi, termasuk mencegat rudal balistik jarak menengah hingga antarbenua, senjata hipersonik.
- Serta satelit orbit rendah dengan jangkauan hingga 3.500 kilometer.
TRIBUNNEWS.COM - Rudal S-500 Prometheus milik Rusia telah resmi masuk tugas tempur dalam peperangan melawan Ukraina.
Rusia secara resmi telah mengoperasikan resimen pertahanan udara dan rudal S-500 Prometheus pertamanya ke dalam tugas tempur pada Desember 2025.
Hal ini menandai tonggak penting dalam upaya Moskow untuk membangun perisai strategis generasi berikutnya yang mampu melawan senjata hipersonik, rudal balistik, dan bahkan satelit yang beroperasi di wilayah perang.
Pengaktifan resimen pertahanan udara dan rudal S-500 “Prometheus tersebut diumumkan oleh Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov, yang mengatakan bahwa sistem tersebut akan secara signifikan memperkuat kemampuan Rusia untuk mengalahkan ancaman udara dan rudal canggih.
Sistem Rudal S-500 dirancang untuk mencegat rudal balistik jarak menengah.
Dan secara mandiri menyerang target dengan jangkauan peluncuran hingga 3.500 kilometer, dan mampu menghancurkan rudal balistik antarbenua pada fase akhir lintasannya.
Bahkan selama fase pertengahan lintasan.
Sistem ini juga dimaksudkan untuk melawan kendaraan luncur hipersonik dan satelit orbit rendah.
Menurut sumber idrw.org, Sistem Rudal S-500 Prometheus dirancang untuk mencegat rudal balistik jarak menengah, menyerang target dengan jangkauan peluncuran hingga 3.500 kilometer, serta menghancurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) pada fase akhir maupun fase pertengahan lintasannya.
Selain itu, sistem ini juga dikembangkan untuk melawan kendaraan luncur hipersonik dan satelit orbit rendah di wilayah konflik.
Menurut sumber idrw.org yang mengutip pihak internal Almaz-Antey, pengembang dan produsen utama S-500, produksi massal rudal untuk sistem tersebut telah dimulai sesuai kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia sejak akhir 2020.
Meski jumlah pasti resimen yang dipesan belum diumumkan, diperkirakan Rusia akan mengakuisisi antara lima hingga sepuluh resimen pada tahap awal untuk kebutuhan operasional dan pengujian penuh kemampuan sistem.
Masuknya S-500 ke dalam dinas militer Rusia terjadi di tengah perubahan besar dalam doktrin militer global, seiring pesatnya pengembangan senjata hipersonik oleh negara-negara besar seperti Rusia, China, dan Amerika Serikat.
Tren ini juga mendorong negara-negara lain untuk memperkuat sistem pertahanan udara dan rudal strategis mereka.
India disebut sebagai salah satu calon pelanggan potensial S-500 di masa depan.