Analis Militer Israel: Perundingan AS-Iran Bakal Gagal, Perang Segera Pecah
Ashkenazi mengatakan Israel percaya kalau AS pada akhirnya mungkin akan melancarkan serangan militer terhadap Iran
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Analis Militer Israel: Perundingan AS-Iran Bakal Gagal, Perang Segera Pecah
TRIBUNNEWS.COM - Avi Ashkenazi, analis militer Israel memprediksi negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan dimulai pada Jumat (6/2/2026) di Istanbul, Turki, akan menemui kebuntuan.
Analis militer Israel itu juga memperkirakan kalau negosiasi tersebut kemungkinan besar tidak akan membahas program rudal balistik Iran, yang dipandang Tel Aviv sebagai ancaman besar.
Baca juga: Skenario Amerika Serikat Berlakukan Blokade Laut ke Iran: Satu Dunia Bisa Gonjang-ganjing
Atas kekhawatiran tersebut, para pejabat Israel diyakini akan membahas rencana pembicaraan antara Washington dan Teheran dengan utusan AS Steve Witkoff, yang tiba di Israel pada Selasa sore.
Witkoff dijadwalakan memimpin delegasi AS dalam pembicaraan dengan Iran di Istanbul, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi akan memimpin pihak Iran.
Amerika Serikat dan Israel menganggap Iran sebagai musuh utama mereka di kawasan itu dan menuduhnya berupaya mengembangkan senjata nuklir.
Iran mengatakan program nuklirnya bertujuan untuk tujuan damai dan ekonomis, termasuk pembangkitan listrik.
Israel, yang secara luas diyakini sebagai satu-satunya negara di kawasan itu yang memiliki persenjataan nuklir, juga mengklaim kalau upaya Iran untuk membangun kembali program rudal balistik jarak jauhnya, yang rusak selama perang terakhir, menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan Israel.
Pada Juni 2025, Israel, dengan dukungan AS, melancarkan operasi militer selama 12 hari terhadap Iran.
Teheran merespons dengan menargetkan wilayah luas di dalam Israel sebelum Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata.
Avi Ashkenazi, dalam laporan di surat kabar Israel Maariv, mengatakan kalau partisipasi Iran dalam pembicaraan tersebut menimbulkan keraguan tentang hasilnya.
"Pertanyaan besarnya adalah apakah Iran bersedia menunjukkan penyerahan diri sepenuhnya dengan menyerahkan uranium yang diperkaya, membongkar proyek nuklir, membatalkan program rudal balistik, dan menghentikan dukungan untuk kelompok-kelompok bersenjata di Yaman, Irak, Suriah, Lebanon, dan Gaza," tulis Ashkenazi pada Selasa (3/2/2026).
Kesiapan Israel
Ashkenazi mengatakan Israel percaya kalau AS pada akhirnya mungkin akan melancarkan serangan militer terhadap Iran dan akan mengizinkan Israel untuk melakukan operasi militer di wilayah Iran jika diserang.
"Israel baru-baru ini telah berbagi informasi intelijen yang ekstensif dengan Washington, khususnya mengenai kemampuan rudal balistik Iran," katanya.
Analis Israel tersebut mencatat, meskipun sistem pertahanan udara Iran mengalami kerusakan parah selama serangan Israel Juni lalu, Teheran tetap memiliki kapasitas industri yang maju dan sedang berupaya untuk membangun kembali.
"Israel meyakini Iran mungkin telah mengambil pelajaran dari konflik tersebut, yang mengharuskan Israel untuk meningkatkan kesiapan mereka sendiri untuk konfrontasi di masa depan," tambah Ashkenazi.
"Militer Israel mengatakan bahwa pembicaraan di Turki tidak mengurangi tingkat kewaspadaan atau kesiapan mereka baik untuk pertahanan maupun serangan," katanya.
Secara terpisah, Amos Harel, seorang analis militer untuk surat kabar Haaretz, mengatakan bahwa pembicaraan tersebut merupakan kesempatan terakhir Iran untuk menghindari konfrontasi dengan Presiden AS Donald Trump, tetapi memperingatkan bahwa masih ada perbedaan pandangan yang signifikan.
Harel mengingat kembali peristiwa pada Juni 2025, ketika pertemuan AS-Iran yang direncanakan menemui kegagalan "setelah Trump menyesatkan para pejabat Iran dan memberi Israel lampu hijau untuk menargetkan situs nuklir Iran."
"Situasi saat ini agak berbeda," tulis Harel, seraya mencatat dukungan publik Trump untuk para demonstran Iran dan pengerahan pasukan AS yang hampir menyeluruh di dekat Teluk, termasuk aset angkatan laut dan jet tempur.
Kekuatan itu masih ditambah dengan sistem pertahanan rudal tambahan, THAAD yang ditempat di berbagai lokasi rawan serangan Iran.
(oln/anews/*)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.