5 Populer Internasional: PM Malaysia Jelaskan Masalah Perbatasan - Bill Gates Menyesal Kenal Epstein
Rangkuman berita populer internasional 6 Februari 2026, di antaranya penjelasan PM Malaysia mengenai sengketa lahan perbatasan dengan Indonesia.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- PM Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan lahan 5.207 hektare di perbatasan merupakan milik Indonesia.
- Bill Gates menyatakan penyesalan karena pernah menjalin hubungan dengan Jeffrey Epstein.
- Perjanjian nuklir Amerika Serikat dan Rusia berakhir sehingga meningkatkan risiko perlombaan senjata.
TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah peristiwa mewarnai pemberitaan internasional dalam 24 jam terakhir.
PM Malaysia Anwar Ibrahim memberikan penjelasan mengenai sengketa perbatasan yang sempat membuat ricuh parlemen.
Sementara itu, Bill Gates menyatakan penyesalannya telah mengenal terpidana asusila Jeffrey Epstein.
Berikut berita selengkapnya.
1. Anwar Ibrahim: Bukan Diserahkan, Lahan 5.027 ha Memang Milik Indonesia
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim kembali memberikan klarifikasi tegas terkait isu sengketa perbatasan di wilayah Masalah Perbatasan Tertunda (Outstanding Boundary Problem/OBP) Sungai Sinapad-Sungai Sesai.
Hal ini diutarakan selepas sidang di Parlemen Malaysia yang berlangsung pada hari Rabu (4/2/2026).
Dikutip dari Sinar Harian, Anwar menegaskan bahwa seluruh kawasan seluas 5.207 hektare yang dipersoalkan oleh oposisi Malaysia tersebut memang berada di bawah wilayah administrasi Indonesia.
Dalam penjelasannya, Anwar Ibrahim menyebutkan bahwa berdasarkan pengukuran dan penandaan ulang perbatasan Malaysia-Indonesia di dua kawasan OBP tersebut, Malaysia justru memperoleh tambahan wilayah seluas 780 hektare.
“Wilayah tersebut mencakup sebagian kecil dari tiga desa, yaitu Desa Kabulanggalo, Desa Lepaga, dan Desa Tetagas, yang kini termasuk ke dalam wilayah Malaysia,” ujar Anwar dalam sesi penjelasan khusus mengenai isu penyelarasan perbatasan Malaysia-Indonesia di Dewan Rakyat, Rabu.
Perdana Menteri menjelaskan bahwa kawasan tersebut sejak awal merupakan hak Indonesia.
Namun, karena peta perbatasan belum difinalisasi melalui perjanjian resmi, muncul ketidaksepakatan di masa lalu.
Meski demikian, secara historis sejak tahun 1915, wilayah tersebut tidak pernah disengketakan oleh pemerintah Inggris (saat menjajah Malaysia) maupun pemerintah Malaysia sebelumnya.
"Meskipun secara fakta belum difinalisasi karena perjanjian saat itu belum ditandatangani, wilayah tersebut tetap menjadi milik dan di bawah pengelolaan pemerintah Indonesia," tambahnya.
Beliau memerinci bahwa penetapan batas di kawasan OBP ini berpegang pada prinsip yang terkandung dalam perjanjian tahun 1915, di mana lahan seluas 5.987 hektare tetap menjadi milik Indonesia.
2. Informan FBI Bongkar Fakta Baru, Curigai Jeffrey Epstein Jadi Kaki Tangan Intelijen Israel
Seorang informan Biro Investigasi Federal (FBI) membongkar fakta baru, menuding mendiang Jeffrey Epstein memiliki keterkaitan dengan badan intelijen Israel, Mossad.
Klaim tersebut muncul dalam sebuah dokumen pemerintah yang termasuk di antara jutaan halaman arsip yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pekan lalu.
Dalam dokumen yang dikutip dari Anadolu, informan yang dikategorikan sebagai Confidential Human Source (CHS) menceritakan pandangannya setelah mengamati hubungan Epstein dengan sejumlah tokoh berpengaruh.
Salah satu nama yang disebut adalah Alan Dershowitz, pengacara ternama yang pernah membela Epstein dalam sejumlah perkara hukum.
Menurut catatan tersebut, CHS mengingat pernyataan Dershowitz kepada Jaksa Agung Distrik Selatan Florida saat itu, Alex Acosta, yang menyebut Epstein “terkait dengan dinas intelijen Amerika Serikat dan negara sekutu.”
Pernyataan itu kemudian menjadi salah satu dasar kecurigaan informan terhadap peran Epstein di balik layar.
Dokumen tersebut juga menyebut bahwa CHS membagikan rekaman percakapan telepon antara Dershowitz dan Epstein.
Dalam penilaian informan, setelah percakapan tersebut, pihak Mossad disebut akan menghubungi Dershowitz untuk memberikan pengarahan.
Informan itu juga mencatat kedekatan Epstein dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak, yang oleh CHS diyakini berperan dalam memperkenalkan Epstein ke lingkungan intelijen.
Masih dalam dokumen yang sama, informan CHS meyakini bahwa Epstein merupakan agen Mossad yang direkrut di tengah dinamika persaingan regional di Timur Tengah.
Namun, laporan tersebut juga memuat catatan internal bertuliskan “lihat laporan sebelumnya,” tanpa penjelasan rinci mengenai rujukan yang dimaksud.
Selain Epstein, dokumen itu turut menyinggung Alan Dershowitz. CHS mengklaim bahwa Dershowitz pernah menyatakan, secara hipotesis, bahwa jika ia masih muda, ia akan bersedia menjadi agen intelijen Israel.
Informan kemudian menyimpulkan bahwa Dershowitz diduga mendukung misi Mossad, sebuah penilaian yang tidak disertai bukti hukum dan tidak pernah dikonfirmasi secara resmi.
3. Ancaman Perang Dunia III Meningkat, Perjanjian Nuklir Amerika–Rusia Berakhir Hari Ini
Perjanjian pengendalian senjata nuklir antara Rusia dan Amerika Serikat berakhir pada Kamis (5/2/2026), meningkatkan kekhawatiran bahwa dunia sedang menuju kebuntuan paling berbahaya dalam beberapa dekade.
Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, runtuhnya Perjanjian New START akan menghapus semua batasan terhadap dua negara dengan persenjataan nuklir terbesar di dunia itu.
Para analis menyebut, tiadanya pengendalian senjata nuklir dapat memicu perlombaan senjata besar-besaran, seperti dilaporkan Daily Mirror.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pihaknya siap untuk terus mematuhi batasan perjanjian tersebut selama satu tahun lagi jika Amerika Serikat melakukan hal yang sama.
Namun, Presiden AS Donald Trump sejauh ini menolak untuk berkomitmen.
Trump mengatakan, menginginkan kesepakatan di masa depan melibatkan China juga.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Trump ingin mempertahankan batasan senjata nuklir, tetapi juga mengajak China untuk bernegosiasi.
Ia menambahkan bahwa presiden akan memutuskan “sesuai jadwalnya sendiri”.
Sementara itu, China telah berulang kali menolak pembatasan apa pun dengan alasan persediaan nuklirnya jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia, meskipun terus berkembang.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memperingatkan pekan ini bahwa dunia akan menjadi lebih berbahaya tanpa batasan pada persediaan nuklir Amerika Serikat dan Rusia.
Para pendukung pengendalian senjata sepakat bahwa berakhirnya perjanjian tersebut dapat memicu ketidakstabilan global dan secara tajam meningkatkan risiko konflik nuklir.
Daryl Kimball, direktur eksekutif Asosiasi Pengendalian Senjata, mengatakan berakhirnya New START akan memungkinkan kedua belah pihak meningkatkan jumlah senjata nuklir yang dikerahkan untuk pertama kalinya dalam sekitar 35 tahun.
4. Bill Gates Menyesal Pernah Menghabiskan Waktu Bersama Jeffrey Epstein: Saya Minta Maaf
Bill Gates kembali membahas hubungannya dengan terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein setelah dokumen-dokumen terbaru dirilis dan menyoroti hubungan masa lalu mereka.
Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan 9 News Australia pada Rabu (4/2/2026), Bill Gates (70) mengatakan ia menyesal pernah menghabiskan waktu bersama Epstein.
Berbicara kepada editor politik Charles Croucher, Gates membantah tuduhan yang disebutkan dalam draf email Epstein yang menyatakan bahwa ia telah melakukan sesuatu dengan seorang wanita.
Ia juga membantah pernah tertular penyakit menular seksual yang disembunyikannya dari istrinya saat itu, Melinda French Gates.
"Rupanya, Jeffrey menulis email kepada dirinya sendiri. Email itu tidak pernah dikirim," kata Gates kepada 9 News.
"Email itu palsu. Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan saat itu. Apakah dia mencoba menyerang saya dengan cara tertentu?"
"Setiap menit yang saya habiskan bersamanya saya sesali, dan saya meminta maaf karena telah melakukan hal tersebut."
Bill Gates mengatakan kepada 9 News bahwa ia pertama kali bertemu Epstein pada 2011.
Gates mengaku hanya makan malam dengan Epstein hingga sekitar tahun 2014.
Ia mengklaim hubungan mereka terutama melibatkan diskusi tentang peluang bisnis bersama.
"Fokusnya selalu, dia mengenal banyak orang kaya dan mengatakan bisa membuat mereka menyumbangkan uang untuk kesehatan global. Jika dilihat kembali, itu adalah jalan buntu," katanya.
"Saya bodoh menghabiskan waktu bersamanya."
5. Belum Mulai, Negosiasi AS-Iran Berantakan Duluan: Teheran Ogah Bahas Rudal, Washington Ngotot
Situs we Axios, Kamis (5/2/2026), melaporkan sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) menyebut kalau rencana negosiasi dengan Iran Teheran, berantakan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengkonfirmasi pada Rabu (4/2/2026) kalau pihak Washington siap bertemu dengan perwakilan Iran pada Jumat (6/2/2026) besok yang direncanakan berlangsung di Istanbul, Turki.
Namun, perkembangan rencana negosiasi itu menghadapi sejumlah tantangan teknis, satu di antaranya adalah soal lokasi pertemuan yang masih dipertimbangkan.
"Dua pejabat AS mengatakan kalau Amerika Serikat memberitahu Iran pada Rabu bahwa mereka menolak tuntutan Teheran untuk mengubah tempat dan format pembicaraan yang dijadwalkan pada Jumat besok," kata laporan Axios.
Mereka juga menjelaskan kalau Washington telah mempertimbangkan permintaan untuk mengubah tempat perundingan dari Turki ke Oman.
Belakangan, pada Rabu itu juga, AS memutuskan untuk menolak sodoran soal lokasi dan waktu negosiasi.
Seorang pejabat senior AS mengatakan: "Kami memberi tahu mereka: Ini atau tidak sama sekali, dan mereka menjawab: Oke, kalau begitu tidak sama sekali."
Pejabat itu menambahkan bahwa Amerika Serikat siap mengadakan pembicaraan minggu ini atau minggu depan jika Iran setuju untuk kembali ke formula yang telah disepakati sebelumnya.
Dia melanjutkan: "Kami ingin mencapai kesepakatan nyata dengan cepat, jika tidak, kami akan mulai mempertimbangkan opsi lain," merujuk pada ancaman aksi militer Trump.
Dalam konteks yang sama, para pejabat melaporkan bahwa utusan Gedung Putih Steve Wittkopf dan Jared Kushner, menantu dan penasihat Presiden Trump, diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Qatar pada hari Kamis untuk mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri mengenai masalah Iran, dan kemudian akan kembali ke Amerika Serikat tanpa bertemu dengan pihak Iran.
(Tribunnews.com)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.