Iran Tak Takut dengan Ancaman Perang AS, Nekat Lakukan Pengayaan Nuklir: Tak Perlu Didikte
Iran mengungkapkan bahwa pihaknya tak takut dengan ancaman perang dari Amerika Serikat (AS). Teheran tetap akan lakukan pengayaan uranium.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengaku negaranya tidak takut dengan ancaman perang dari Amerika Serikat (AS).
- Maka dari itu, kata Araghchi, Iran tidak akan pernah menyerahkan hak untuk memperkaya uranium.
- Araghchi mengatakan, hak untuk mengembangkan energi nuklir adalah kedaulatan mutlak yang tidak dapat diganggu gugat oleh tekanan eksternal mana pun.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyebut negaranya tidak takut dengan ancaman perang dari Amerika Serikat (AS).
Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah menyerahkan hak untuk memperkaya uranium, bahkan jika situasi berubah menjadi konflik bersenjata atau perang terbuka.
Pernyataan keras ini muncul hanya beberapa hari setelah tenggat waktu diplomasi yang krusial dan pengerahan armada militer besar-besaran oleh Washington ke wilayah Teluk.
Teheran menyatakan bahwa hak untuk mengembangkan energi nuklir adalah kedaulatan mutlak yang tidak dapat diganggu gugat oleh tekanan eksternal mana pun.
"Iran telah membayar harga yang sangat mahal untuk program nuklir damainya dan untuk pengayaan uranium," kata Araghchi, mengutip Al Arabiya.
"Mengapa kita begitu bersikeras pada pengayaan dan menolak untuk melepaskannya bahkan jika perang dipaksakan kepada kita? Karena tidak ada yang berhak mendikte perilaku kita," lanjutnya.
Araghchi juga mengatakan bahwa negaranya tidak terintimidasi oleh pengerahan angkatan laut AS di Teluk.
"Pengerahan militer mereka di wilayah tersebut tidak membuat kami takut," jelasnya.
Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap kebijakan "tekanan maksimum" yang kembali digaungkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Sebelumnya, Trump memberikan ultimatum agar Iran segera kembali ke meja perundingan dengan syarat yang jauh lebih ketat, termasuk penghentian total pengayaan uranium di atas level tertentu.
Namun, Teheran justru mengisyaratkan kesiapan militer mereka.
Baca juga: Inggris Siaga Perang! Kirim Jet F-35 ke Siprus di Tengah Ancaman Konflik AS VS Iran
Para pejabat tinggi Iran menyatakan bahwa jika Amerika Serikat memilih jalur agresi militer, hal itu justru akan mempercepat program nuklir mereka ke level yang lebih tinggi sebagai bentuk perlindungan diri.
Netanyahu Bahas Iran dengan Trump
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dijadwalkan akan bertemu dengan Trump di Washington.
Pertemuan ini disebutkan akan membahas tentang Iran, yakni pembatasan rudal balistik dan penghentian dukungan untuk poros Teheran.
Netanyahu akan berangkat ke Washington pada Selasa (10/2/2026), demikian menurut sebuah sumber yang mengetahui hal tersebut kepada The Times of Israel pada hari Sabtu.