Diperlakukan Seperti Binatang, Warga Palestina Bongkar Operasi Deportasi Rahasia AS
Deportasi warga Palestina langsung ke Tepi Barat melalui pesawat pribadi mewah menandai operasi yang tidak biasa dan rahasia oleh pemerintahan AS.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Diperlakukan Seperti Binatang, Warga Palestina Bongkar Operasi Deportasi Rahasia AS
Ringkasan Berita:
- Delapan warga Palestina, termasuk Maher Awad, dideportasi dari AS ke Tepi Barat melalui jet pribadi Gulfstream.
- Para pria yang diborgol selama penerbangan multi-perhentian, ditinggalkan di pos pemeriksaan Ni'lin begitu saja tanpa dukungan dan jaminan hukum.
- Kelompok hak asasi manusia menyebut operasi ini "sangat tidak biasa", dan menimbulkan kekhawatiran tentang proses hukum yang adil dan keselamatan.
TRIBUNNEWS.COM - Duduk di rumah keluarganya di Rammun, Tepi Barat, Palestina Maher Awad yang berusia 24 tahun menatap layar ponsel pintar.
Di ujung lain, ribuan mil jauhnya di Michigan, Amerika Serikat (AS) terpampang wajah putranya yang berusia empat bulan yang belum pernah ia gendong.
Baca juga: Setahun Kepemimpinan Trump: ICE Gencarkan Penangkapan Imigran dengan Rekam Jejak Kriminal Kekerasan
Awad adalah satu dari delapan pria Palestina yang terjebak dalam perubahan kontroversial kebijakan imigrasi AS.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, seperti dikutip dari RNTV, dia menceritakan perjalanan mengerikan yang dimulai dengan panggilan darurat 911 dan berakhir dengan dirinya ditinggalkan di pos pemeriksaan militer Israel di Tepi Barat di tengah malam.
Mengejar Mimpi di 'Tanah Impian'
Maher pindah ke Amerika Serikat sepuluh tahun lalu, untuk mengejar apa yang digadang-gadang sebagai 'Americak Dreams', "Impian Amerika".
Dia bersekolah di Michigan, bekerja di restoran shawarma milik keluarganya di Kalamazoo, dan membangun kehidupan bersama pasangannya, Sandra.
Masalahnya dimulai pada Februari 2025, bukan karena kejahatan, tetapi karena laporan yang dia buat.
Setelah menghubungi polisi untuk melaporkan adanya pembobolan, petugas yang datang justru menemukan tuduhan kekerasan dalam rumah tangga yang belum terselesaikan dari tahun sebelumnya.
Meskipun tuduhan tersebut kemudian dibatalkan, penangkapan tersebut memicu penahanan dari unit Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE).
"Saya sedang dalam proses mendapatkan Kartu Hijau (Green Card). Saya memiliki nomor Jaminan Sosial, saya membayar pajak, saya memiliki SIM," kata Awad.
"Saya pikir jika saya mengikuti aturan, saya akan aman."
Sebaliknya, jauh dari kata 'aman', Awad justru menghabiskan tahun berikutnya berpindah-pindah dari 14 pusat penahanan di seluruh AS, termasuk fasilitas di Texas dan Louisiana.
Dia berada dalam tahanan ketika putranya, Taj, lahir.
Baca tanpa iklan