Usai Bertemu Netanyahu, Trump Pastikan Dialog Nuklir dengan Iran Terus Berlanjut
Trump buka jalur dialog nuklir dengan Iran usai bertemu Netanyahu. Diplomasi diutamakan, namun AS beri peringatan keras jika negosiasi kembali gagal.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Trump menyatakan optimistis, kesepakatan masih mungkin dicapai jika Iran bersedia memenuhi tuntutan yang diajukan Washington. Namun, ia mengingatkan kegagalan diplomasi di masa lalu telah berujung pada tindakan militer.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyinggung operasi militer AS pada Juni lalu terhadap tiga fasilitas nuklir Iran yang dikenal sebagai Operasi Midnight Hammer. Serangan tersebut dilakukan setelah pembicaraan sebelumnya tidak menghasilkan kemajuan.
“Iran sebelumnya memilih tidak membuat kesepakatan dan mereka menerima konsekuensi serius. Mudah-mudahan kali ini mereka akan lebih rasional dan bertanggung jawab,” tulis Trump.
Sikap ini mencerminkan strategi “diplomasi dengan tekanan” yang diterapkan Washington, yaitu membuka peluang negosiasi sambil tetap menunjukkan kesiapan mengambil langkah tegas jika pembicaraan gagal.
Adapun dalam perundingan terbaru, pemerintah AS mengajukan tiga tuntutan utama kepada Iran.
Yaitu menghentikan program pengayaan nuklir, membatasi pengembangan rudal balistik, serta mengurangi dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan Timur Tengah.
Namun, respons dari Teheran menunjukkan masih adanya perbedaan mendasar.
Pemerintah Iran menyatakan bersedia membuktikan program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil dan damai.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, negaranya terbuka terhadap kesepakatan, tetapi tidak akan menerima tuntutan yang dianggap berlebihan.
Iran juga menolak pembahasan terkait kemampuan rudal balistik. Pejabat tinggi Iran menegaskan sistem pertahanan tersebut merupakan bagian dari kedaulatan nasional dan tidak dapat dinegosiasikan.
Perbedaan posisi ini membuat proses perundingan diperkirakan tidak akan mudah.
Meski demikian, Amerika Serikat tetap mendorong jalur diplomasi sebagai langkah utama untuk mengendalikan program nuklir Iran sekaligus menghindari eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Situasi ini menempatkan hubungan AS–Iran pada fase krusial, di mana keberhasilan atau kegagalan dialog dapat menentukan arah stabilitas keamanan kawasan dalam waktu mendatang.
(Tribunnews.com / Namira)