Shunga dan Wajah Terbuka Seksualitas Jepang pada Zaman Edo
Dulu hiburan populer, kini shunga dipelajari serius dan dipamerkan dunia. Seni erotis Edo merekam cara Jepang memandang cinta, tubuh dan kehidupan
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Shunga, seni erotis tradisional Jepang yang berkembang pesat pada periode Edo (1603–1868), kini mendapat pengakuan luas sebagai bagian penting sejarah seni dan budaya Jepang
- Dulu dianggap hiburan dewasa, shunga berfungsi sebagai panduan rumah tangga, hadiah pernikahan, hingga media humor dan kritik sosial
- Karya ini mencerminkan pandangan masyarakat Edo yang relatif terbuka terhadap seksualitas. Kini, shunga dipamerkan dan diteliti secara global sebagai dokumen budaya bernilai tinggi.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Shunga, seni erotis tradisional Jepang yang berkembang pesat pada periode Edo (1603–1868), kini semakin mendapat pengakuan sebagai bagian penting dari sejarah seni dan budaya Jepang.
Dahulu dianggap sebagai hiburan populer masyarakat, shunga kini dipelajari secara serius oleh akademisi dan dipamerkan di museum-museum internasional.
"Pameran di Kabukicho ini yang kedua kalinya, sebelumnya dilakukan tahun lalu," papar kurator pameran Shoko Nakamura khusus kepada Tribunnews.com kemarin (16/2/2026).
Secara harfiah, shunga berarti “gambar musim semi”, sebuah istilah yang dalam budaya Jepang merujuk pada cinta dan hubungan intim. Karya-karya shunga umumnya dibuat dalam bentuk cetakan balok kayu atau ukiyo-e, dengan penggambaran detail hubungan manusia yang eksplisit namun artistik.
Berbeda dengan pandangan modern yang sering mengaitkan karya erotis dengan pornografi, pada masa Edo shunga memiliki fungsi sosial yang luas.
Baca juga: Pekerja Asing di Iwate Jepang Capai Rekor Tertinggi, Vietnam Terbanyak
Banyak pasangan suami istri menggunakan shunga sebagai panduan kehidupan rumah tangga.
Karya-karya ini juga kerap diberikan sebagai hadiah pernikahan atau sekadar hiburan bagi kalangan dewasa.
Sejumlah seniman besar Jepang turut menciptakan karya shunga, termasuk pelukis ukiyo-e ternama.
Hal ini menunjukkan bahwa seni erotis tidak dianggap terpisah dari seni arus utama pada masa itu.
Para peneliti budaya Jepang menilai shunga mencerminkan pandangan masyarakat Edo yang relatif terbuka terhadap seksualitas.
"Meskipun demikian karya yang dipamerkan di sini umumnya tidak diketahui siapa pelukisnya di jaman Edo, karena mungkin malu untuk diketahui namanya sebagai pelukis erotis," katanya.
Selain unsur sensual, banyak karya shunga memuat humor, narasi kehidupan sehari-hari, hingga kritik sosial.
"Itulah sebabnya banyak karya Shunga hanya sebesar kartu saja sekitar 12x9 cm saja agar mudah disembunyikan dimasukkan ke kantong baju kita."
Dalam beberapa dekade terakhir, minat terhadap shunga meningkat secara global.
Pameran khusus shunga digelar di berbagai museum dunia, dan karya-karyanya menjadi objek penelitian lintas disiplin, mulai dari sejarah seni hingga studi gender.
Di Tokyo pun pertama kali pameran Shunga sekitar tahun 2015 lalu, tambahnya.
Meski demikian, karena sifatnya yang eksplisit, publikasi shunga masih sering dibatasi dalam ruang publik modern Jepang.
Namun demikian, banyak kalangan menilai shunga bukan sekadar karya erotis, melainkan dokumen budaya yang penting untuk memahami sejarah sosial dan estetika Jepang.
Baca juga: JAMA Desak Pemerintah Jepang Percepat Kebijakan Ekonomi dan Reformasi Pajak Otomotif
Para ahli menegaskan bahwa mempelajari shunga berarti memahami bagaimana masyarakat Jepang masa lalu memandang tubuh manusia, relasi sosial, serta kebebasan berekspresi dalam seni.
Dengan meningkatnya perhatian internasional, shunga kini tidak hanya dipandang sebagai artefak erotis, tetapi juga sebagai warisan budaya yang menggambarkan kompleksitas kehidupan dan nilai masyarakat Jepang berabad-abad lalu.
"Sunga juga sebagai bukti kalau di jaman Edo pun berbagai jenis kertas dengan kualitas baik telah dibuat Jepang. Demikian penggambar dan tinta gambar yang berwarna warni pun telah tersedia saat ini. Satu kebudayaan besar Jepang di masa Edo," papar seorang pengamat budaya Jepang kepada Tribunnews.com.
Pameran berlangsung di Shinjuku Kabukicho Noh Stage gedung Lions Plaza Shinjuku lantai 2 (Kabukicho 2-9-18) dan di Kabukicho Social Building lantai 9 (Kabukicho 1-2-15). Tiket per orang 1100 yen dan mahasiswa 700 yen. Anak-anak gratis.
Karena seni budaya erotis tradisional Jepang, gambar yang ada pun berlatar belakang erotisme misalnya orang yang bersetubuh dan sebagainya.
Diskusi pameran di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.