Perusahaan Jepang di Kitakyushu Puji Pekerja Indonesia: Rajin dan Tak Tergantikan
Perusahaan di Kitakyushu memuji pekerja Indonesia yang dinilai rajin di tengah krisis tenaga kerja Jepang
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Kota Kitakyushu menghadapi krisis tenaga kerja akibat penurunan populasi dan minimnya pekerja muda
- Perusahaan industri Jepang memuji pekerja Indonesia yang dinilai rajin dan kini menjadi tenaga penting.
- Pemerintah kota juga mendorong investasi serta memperluas perekrutan lansia demi menjaga aktivitas ekonomi daerah
.Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, JEPANG — Kota Kitakyushu menghadapi tantangan serius akibat terus menurunnya jumlah penduduk dan berkurangnya tenaga kerja muda. Di tengah situasi tersebut, berbagai langkah dilakukan pemerintah daerah dan perusahaan untuk mempertahankan aktivitas ekonomi kota, termasuk mengandalkan pekerja asing asal Indonesia dan memperluas lapangan kerja bagi lansia.
Pekerja Indonesia pun mendapat pujian di sebuah perusahaan industri Jepang Korenaga Shokai.
“Kami sudah mengambil orang Indonesia sejak 10 tahun lalu dan ada yang sudah kembali. Total mungkin 60 orang, Mereka sangat rajin kami menyukainya,” ujar Noriko Sato, pejabat eksekutif Korenaga Shokai khusus kepada Tribunnews.com Jumat (29/5/2026).
Menurut laporan pemerintah kota Kitakyushu, tahun 2024 menjadi pertama kalinya dalam 60 tahun jumlah penduduk yang pindah masuk ke Kitakyushu melampaui jumlah yang pindah keluar. Tren “kelebihan pendatang” itu juga berlanjut pada tahun 2025.
Namun demikian, penurunan alami akibat tingginya angka kematian, terutama dari kelompok lansia, masih membuat total populasi kota terus berkurang.
Baca juga: Populasi Anak Tinggal 13,29 Juta, Bangsa Jepang Hadapi Ancaman Penuaan Penduduk
Salah satu perusahaan yang merasakan langsung krisis tenaga kerja adalah Korenaga Shokai, perusahaan pengolahan material konstruksi.
Dari total 37 pekerja di pabrik mereka, sebanyak 17 orang merupakan peserta magang teknis asal Indonesia dan sebagian besar masih berusia 20-an tahun.
Pihak perusahaan mengaku selama bertahun-tahun kesulitan merekrut pekerja muda Jepang. Kantor pusat di Kitakyushu dan kantor cabang di Osaka memiliki sekitar 20 pekerja WNI saat ini.
“Kami sebenarnya ingin bekerja bersama tenaga kerja Jepang, tetapi pekerjaan ini memiliki citra 3K (kotor, berat, berbahaya), sehingga sulit menarik anak muda Jepang,” ujar Noriko Sato, pejabat eksekutif Korenaga Shokai.
Karena itu perusahaan mulai merekrut tenaga kerja dari Indonesia sekitar 10 tahun lalu dan sejauh ini telah menerima sekitar 60 pekerja Indonesia sejak 10 tahun lalu.
“Bagi perusahaan kami, mereka sudah menjadi keberadaan yang tidak tergantikan. Untuk perkembangan perusahaan ke depan, kami sangat membutuhkan tenaga kerja Indonesia,” katanya.
Para peserta magang asal Indonesia tersebut juga aktif mengikuti berbagai kegiatan komunitas lokal dan dinilai ikut menghidupkan suasana kota.
“Bagus sekali karena mereka bisa masuk ke dalam komunitas lokal dan menjalin hubungan baik dengan masyarakat,” tambah Sato.