Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Trump Penasaran Mengapa Iran Belum Menyerah Hadapi AS, Sudah Ditekan agar Capai Kesepakatan Nuklir

Trump mempertanyakan mengapa Iran belum menyerah dalam menghadapi peningkatan kekuatan militer Washington.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan

Ringkasan Berita:
  • Trump mempertanyakan mengapa Iran belum menyerah dalam menghadapi peningkatan kekuatan militer Washington.
  • Iran memiliki waktu paling lama 15 hari untuk mencapai kesepakatan mengenai beberapa hal, dimulai dari program nuklirnya.
  • Amerika Serikat dan Iran pekan ini melanjutkan pembicaraan yang dimediasi Oman di Jenewa yang bertujuan untuk mencegah kemungkinan aksi militer.

 

TRIBUNNEWS.COM - Utusan Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff, mengatakan Presiden AS Donald Trump mempertanyakan mengapa Iran belum "menyerah" dalam menghadapi peningkatan kekuatan militer Washington yang bertujuan untuk menekan mereka agar mencapai kesepakatan nuklir.

Komentar Witkoff muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan draf proposal untuk kesepakatan dengan Washington akan siap dalam beberapa hari.

Trump mengatakan pada Kamis (19/2/2026) bahwa Iran memiliki waktu paling lama 15 hari untuk mencapai kesepakatan mengenai beberapa hal, dimulai dari program nuklirnya.

Amerika Serikat dan Iran pekan ini melanjutkan pembicaraan yang dimediasi Oman di Jenewa yang bertujuan untuk mencegah kemungkinan aksi militer, setelah Washington mengirimkan dua kapal induk, jet tempur, dan persenjataan ke wilayah tersebut untuk mendukung peringatannya.

Dalam wawancara Fox News dengan menantu perempuan Trump, Lara, Witkoff mengatakan presiden "penasaran" tentang posisi Iran setelah dia memperingatkan mereka tentang konsekuensi berat jika mereka gagal mencapai kesepakatan.

Rekomendasi Untuk Anda

"Saya tidak ingin menggunakan kata 'frustrasi,' karena dia mengerti dia memiliki banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka belum. Saya tidak ingin menggunakan kata 'menyerah,' tetapi mengapa mereka belum menyerah," ujarnya, Sabtu (21/2/2026), dikutip dari Al Arabiya.

“Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan jumlah kekuatan laut dan angkatan laut di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kami dan berkata, 'Kami menyatakan kami tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan?' Namun, agak sulit untuk membuat mereka sampai pada titik itu," ungkapnya.

Utusan AS itu juga mengonfirmasi dalam wawancara tersebut bahwa ia telah bertemu dengan Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang diasingkan dan seorang kritikus pemerintah saat ini, yang belum kembali ke negara itu sejak sebelum Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki.

“Saya bertemu dengannya atas arahan presiden,” kata Witkoff, tanpa memberikan detail lebih lanjut.

“Saya pikir dia kuat untuk negaranya, peduli pada negaranya. Tetapi ini akan berkaitan dengan kebijakan Presiden Trump," paparnya.

Pahlavi yang berbasis di AS pekan lalu mengatakan kepada kerumunan di Munich bahwa ia siap memimpin negara itu menuju “masa depan demokrasi sekuler” setelah Trump mengatakan perubahan rezim akan menjadi yang terbaik untuk negara itu.

Baca juga: Trump Disebut Telah Tentukan Hari-H Serangan ke Iran, Wapres Vence & Direktur Intelijen Tidak Setuju

Saat pembicaraan antara kedua negara berlanjut di Jenewa, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari Selasa mengatakan bahwa Trump tidak akan berhasil menghancurkan republik Islam tersebut.

Negara-negara Barat menuduh Republik Islam berusaha untuk memperoleh senjata nuklir, yang dibantah Teheran, meskipun mereka bersikeras pada hak mereka untuk melakukan pengayaan uranium untuk tujuan sipil.

Iran, di sisi lain, berupaya untuk menegosiasikan pengakhiran sanksi yang terbukti sangat menghambat perekonomiannya, yang berperan dalam memicu protes anti-pemerintah pada bulan Desember.

Iran dan AS Berbeda Pandangan

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas