Bayang-bayang Perang AS–Iran Kian Nyata, RI Siaga Pantau WNI di Teheran
Bayang perang AS–Iran kian nyata. RI siaga pantau WNI di Tehran, mayoritas pelajar, situasi masih normal namun diminta tetap waspada.
Penulis:
Danang Triatmojo
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia menegaskan terus memantau secara seksama kondisi keamanan di Iran di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Bayang-bayang perang kian nyata setelah Presiden AS Donald Trump mengultimatum Iran untuk menyetujui kesepakatan baru soal program nuklir dalam 10–15 hari, atau menghadapi konsekuensi serangan militer terbatas.
“Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Tehran terus memantau secara seksama perkembangan situasi keamanan di Iran. Hingga saat ini, situasi di Teheran dan kota-kota lainnya terpantau berjalan normal serta kondusif,” kata Plt Direktur PWNI Kemlu RI, Heni Hamidah, Senin (23/2/2026).
Perihal keberadaan WNI di Iran, KBRI Tehran disebut terus menjalin komunikasi aktif.
Hingga kini belum ada laporan soal WNI terdampak ancaman maupun situasi yang membahayakan keselamatan.
“Terkait keberadaan WNI di Iran, KBRI Tehran senantiasa memantau dan menjalin komunikasi aktif dengan para WNI, dan hingga saat ini, tidak terdapat laporan WNI yang menghadapi ancaman langsung maupun situasi yang membahayakan keselamatan,” ujar Heni.
Mayoritas WNI di Iran adalah pelajar yang tinggal di Qom dan Isfahan.
Kemlu mengimbau seluruh WNI untuk tetap meningkatkan kewaspadaan di tengah situasi yang menegang.
“Turut memantau perkembangan situasi terkini, serta menjalin komunikasi dengan KBRI Tehran,” pungkas Heni.
Baca juga: ISESS: Prajurit Wanita TNI Mutlak Dibutuhkan di Gaza
Hubungan Iran dan AS kian menegang sejak 2025, terutama terkait program nuklir Iran dan tuntutan AS agar Tehran menyetop pengayaan uranium serta pembatasan rudal.
Ketegangan meningkat setelah intervensi Israel di Iran pada paruh tahun 2025, yang meluas pada tindakan militer AS terhadap beberapa fasilitas nuklir Iran.
Sejak awal 2026, AS menempatkan pasukan dan kapal induk dalam jumlah besar di Timur Tengah, mengirim sinyal tekanan lanjutan kepada Iran.
Di sisi lain, Iran menegaskan siap menghadapi semua skenario, termasuk respons militer tegas jika diserang, namun menekankan tidak akan menyerang lebih dulu.
Negosiasi nuklir antara kedua pihak dijadwalkan berlanjut di Jenewa dengan Oman sebagai mediator diplomatik.
Diplomasi berjalan di tengah tekanan militer AS yang signifikan, termasuk penempatan puluhan pesawat tempur dan dua kapal induk di kawasan.
Atas situasi yang berpotensi berkembang menjadi perang, sejumlah negara seperti India, Korea Selatan, Serbia, Swedia, Jerman, dan AS telah mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya untuk meninggalkan Iran jika eskalasi keamanan meningkat.
Baca tanpa iklan