Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Soal Negosiasi, Zelenskyy: Rusia Hanya Main-main, Putin Tak Serius

Soal negosiasi, Presiden Ukraina Zelenskyy menyebut Rusia hanya bermain-main dan Putin tak berniat mengakhiri perang tanpa konsesi wilayah.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Zelenskyy mengatakan Putin hanya bermain-main dan berniat untuk mengakhiri perang melalui proses negosiasi.
  • Zelenskyy mendesak AS untuk melihat "permainan" Rusia dan memastikan jaminan keamanan untuk Ukraina.
  • Ukraina bersikeras tidak akan menyerahkan wilayahnya sebagai bagian dari konsesi apapun.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.462 pada Selasa (24/2/2026).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia tidak berniat mengakhiri perang dan Presiden Rusia Vladimir Putin hanya "bermain-main" dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Menurutnya, Putin mencoba menggunakan proses negosiasi untuk melemahkan posisi Ukraina.

"Rusia sedang bermain-main dan tidak memiliki niat serius untuk mengakhiri perang. Saya melihat ini karena mereka adalah aktor yang sangat buruk," kata Zelensky dalam sebuah wawancara dengan Financial Times yang diterbitkan Selasa (24/2/2026). 

"Mereka (Rusia) mempermainkan Trump dan mereka mempermainkan seluruh dunia. Begitulah kenyataannya. Putin berpikir dia terlihat meyakinkan dan dapat dipercaya. Tidak - dia adalah aktor yang buruk," lanjutnya.

Zelenskyy menekankan Rusia hanya menciptakan ilusi kesiapan untuk perdamaian.

Sebelumnya, Zelenskyy mengatakan Rusia telah menawarkan kepada Trump paket perjanjian kerja sama ekonomi senilai 12 triliun dolar AS. 

Rekomendasi Untuk Anda

Ia mengatakan tawaran tersebut mencakup ketentuan "tentang Ukraina" yang berpotensi memungkinkan eksploitasi sumber daya alam di wilayah yang diduduki Rusia.

Zelenskyy menekankan, tindakan seperti itu adalah "demagogi dan kebohongan".

Bagi Zelenskyy, setiap kesepakatan dengan Putin tanpa jaminan yang kuat adalah keputusan yang berbahaya, karena menurutnya Rusia tidak dapat dipercaya.

Baca juga: Zelenskyy: Saya Yakin Putin Telah Memulai Perang Dunia III

Presiden juga mencatat tekanan Trump terhadap Ukraina jauh lebih besar daripada tekanannya terhadap Moskow. 

Namun, Zelenskyy masih berharap rekan sejawatnya di Washington akan mengubah pendiriannya.

"Saya berharap Presiden Trump dan Amerika Serikat akan menekan Rusia dan menghentikan Putin. Tetapi pertama-tama, saya mengandalkan warga Ukraina, tentara kita, dan produksi kita," kata Zelenskyy.

Sehari sebelumnya, BBC News menerbitkan hasil wawancara dengan Zelenskyy.

Dalam wawancara itu Zelenskyy menegaskan Ukraina menolak konsesi wilayah dan meyakini Putin tidak berniat mengakhiri perang.

"Amerika harus menghentikan Rusia, bukan mencoba menyenangkan mereka," kata Zelenskyy, mengomentari pembicaraan Utusan Khusus Trump, Steve Witkoff.

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang Rusia–Ukraina pecah secara terbuka pada 24 Februari 2022. Saat itu, Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke sejumlah kota penting di Ukraina. Dentuman artileri dan laju tank di kawasan Eropa Timur menjadi penanda dimulainya fase baru dari konflik yang sebenarnya sudah lama memanas.

Akar ketegangan kedua negara bisa ditelusuri sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina perlahan mendekat ke Barat dengan membangun hubungan yang lebih erat bersama Uni Eropa dan Amerika Serikat. Perubahan arah politik ini dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan.

Situasi memanas pada 2014 ketika demonstrasi besar yang dikenal sebagai Revolusi Maidan mengguncang Kyiv. Pergantian pemerintahan yang dianggap lebih pro-Barat memicu reaksi cepat dari Moskow. Rusia kemudian mencaplok Krimea, sementara konflik bersenjata meletus di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.

Sejumlah upaya diplomasi sempat dilakukan, namun tidak mampu menghadirkan perdamaian yang bertahan lama. Ketegangan akhirnya mencapai puncaknya ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer skala penuh pada Februari 2022.

Rusia menyatakan langkah tersebut untuk melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas dan mencegah perluasan NATO. Namun, invasi itu menuai kecaman luas dari komunitas internasional. Amerika Serikat dan negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia, sekaligus meningkatkan dukungan militer dan bantuan keuangan bagi Ukraina.

Di tengah perang yang masih berlangsung, berbagai upaya perundingan terus dilakukan, dengan AS sebagai penengah yang mendorong Rusia-Ukraina untuk kembali ke meja perundingan.

Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.

  • Rusia Masih Gencar Mengekspor Minyak

Para peneliti mengatakan ekspor minyak Rusia turun tahun lalu, tetapi negara itu masih mengekspor volume yang lebih tinggi daripada sebelum invasi Ukraina tahun 2022.

Volume ekspor minyak mentah Rusia tetap enam persen di atas level sebelum invasi pada tahun keempat perang, meskipun ada sanksi Barat yang bertujuan untuk mengekang "armada bayangan" Rusia yang digunakan untuk menghindari sanksi Barat, menurut laporan dari Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (Crea), sebuah lembaga think tank Finlandia. 

Namun, pendapatan minyak – yang membiayai kas perang Moskow – telah turun di bawah level sebelum invasi, karena Rusia terpaksa menerapkan diskon harga, kata laporan tersebut pada hari Selasa (24/2/2026). 

“Kami telah melihat penurunan signifikan dalam pendapatan ekspor bahan bakar fosil Rusia sebagai akibat dari langkah-langkah baru dan penegakan yang lebih ketat,” kata Isaac Levi, analis Crea dan salah satu penulis laporan tersebut. 

“Masih ada celah dan area signifikan yang belum ditangani oleh negara-negara yang memberlakukan sanksi, sehingga volume tetap tinggi," lanjutnya.

  • Para Pemimpin Negara Eropa Tuduh Hongaria Sabotase Dukungan untuk Ukraina

Para pemimpin Eropa menuduh Hongaria menyabotase dukungan untuk Ukraina menjelang peringatan keempat invasi skala penuh Rusia pada 24 Februari ini.

Sebelumnya, Hongaria menentang memblokir langkah-langkah ekonomi baru yang direncanakan Uni Eropa terhadap Rusia

Jerman, Prancis, dan negara-negara Uni Eropa lainnya gagal membujuk pemerintah Viktor Orbán pada hari Senin untuk menyetujui paket sanksi Uni Eropa terbaru dan pinjaman yang dimaksudkan untuk membantu Kyiv memenuhi kebutuhan militer dan keuangannya. 

Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, menggambarkan tindakan Hongaria sebagai sabotase politik. 

Perselisihan tersebut mengancam solidaritas mitra Eropa dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Beberapa pemimpin Uni Eropa diperkirakan akan mengunjungi Kyiv pada hari Selasa, termasuk presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen.

  • Seorang Pria Meledakkan Alat Peledak di Moskow, Menewaskan Satu Petugas

Kementerian Dalam Negeri Rusia mengatakan seorang pria meledakkan sebuah alat peledak di samping mobil patroli polisi di pusat kota Moskow pada Selasa dini hari, menewaskan seorang petugas dan melukai dua lainnya. 

Ledakan terjadi sekitar pukul 00.05 waktu setempat di alun-alun stasiun kereta api Savyolovsky. 

Stasiun Savyolovsky, di Moskow utara, adalah salah satu pusat kereta api utama ibu kota.

"Penyerang mendekati petugas polisi lalu lintas yang duduk di dalam kendaraan patroli mereka dan kemudian sebuah alat peledak meledak," kata pernyataan itu, menambahkan bahwa penyerang meninggal di tempat kejadian. 

Pihak berwenang tidak memberikan rincian langsung tentang bahan peledak atau motifnya.

  • Inggris Umumkan Paket Bantuan untuk Ukraina

Inggris mengumumkan paket baru dukungan militer, kemanusiaan, dan rekonstruksi untuk Ukraina, termasuk 20 juta poundsterling (27 juta dolar AS) untuk dukungan energi darurat.

Selain itu, Inggris memberikan 30 juta poundsterling untuk membantu ketahanan masyarakat Ukraina dan mendorong upaya akuntabilitas bagi para korban dan penyintas dugaan kejahatan perang Rusia.

  • Serangan Rusia di Zaporizhzhia Lukai Lima Orang

Serangan pesawat tak berawak Rusia di kota Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, semalam melukai lima orang, termasuk seorang anak.

Serangan tersebut menargetkan beberapa lokasi, menurut laporan para pejabat setempat. 

Di satu lokasi, sebuah pesawat tak berawak menabrak gedung pabrik di sebelah blok perumahan sembilan lantai, memicu kebakaran yang menyebar lebih dari 200 meter persegi.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas