Tunanetra Semakin Nyaman Berjalan Kaki di Jepang Berkat Pengembangan AI Suitcase
Jepang kembangkan AI Suitcase, koper robot pintar bantu tunanetra bernavigasi mandiri di ruang publik dan Expo 2025 Osaka
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Jepang mengembangkan AI Suitcase, koper robot berbasis kecerdasan buatan untuk membantu mobilitas tunanetra di ruang publik
- Dikembangkan oleh Miraikan bersama IBM Japan, perangkat ini dilengkapi kamera, LiDAR, sensor navigasi, dan sistem suara berbasis AI
- Teknologi ini diproyeksikan mendukung lingkungan inklusif, termasuk pada Expo 2025 Osaka Kansai.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Pemerintah dan institusi riset di Jepang terus memperkuat komitmen terhadap pengembangan teknologi inklusif melalui inovasi AI Suitcase, sebuah koper robot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mendukung mobilitas penyandang tunanetra di ruang publik.
Bergerak otomatis dengan langkah nyaman tidak cepat, enak digunakan siapa pun yang menggunakan, setelah pengguna melakukan setting tujuan tempat yang ingin dikunjunginya.
Pada bagian tangan memegang pegangan suitcase ada tombol untuk meraba dan mengetahui pergerakan suitcase ke kiri atau ke kanan bagi tunanetra.
"Teknologi ini dikembangkan oleh Miraikan (National Museum of Emerging Science and Innovation) bekerja sama dengan IBM Japan serta sejumlah lembaga penelitian dan mitra teknologi lainnya. Proyek ini merupakan hasil kerja tim multidisiplin Jepang, bukan ciptaan individu tunggal," ungkap Chieko Asakawa baru-baru ini.
Salah satu figur kunci dalam pengembangan tersebut adalah Chieko Asakawa, IBM Fellow dan peneliti teknologi aksesibilitas yang juga penyandang tunanetra. Perspektif dan pengalamannya menjadi landasan penting dalam memastikan perangkat ini benar-benar menjawab kebutuhan pengguna.
Baca juga: Sosok Azzam Nur, Penyanyi Tuna Netra Dipeluk Prabowo saat Puncak Hari Guru Nasional 2025
Spesifikasi dan Teknologi
AI Suitcase memiliki berat sekitar 29 kilogram dengan daya tahan baterai kurang lebih tiga jam dalam satu kali pengisian. Meski masih dalam tahap pengembangan lanjutan, sistemnya telah dirancang untuk mendukung navigasi di dalam maupun luar ruangan.
Perangkat ini dilengkapi dengan Dua kamera utama yaitu Kamera depan untuk navigasi utama dan Kamera tambahan untuk mendeteksi rintangan dan membaca lingkungan sekitar.
Menggunakan teknologi RGB-D (depth camera) untuk membaca jarak dan bentuk objek secara tiga dimensi.
Sensor dan Sistem Navigasi yang digunakan yaitu LiDAR (Light Detection and Ranging) untuk pemetaan jarak dan deteksi objek 3D.
Demikian pula Sensor jarak/ultrasonik untuk mendeteksi rintangan pada jarak dekat.
Dan Sensor posisi dan gerak (IMU) untuk menjaga stabilitas serta arah pergerakan.
Sistem pemetaan berbasis AI menggunakan teknologi SLAM (Simultaneous Localization and Mapping) serta GPS dengan dukungan RTK positioning untuk navigasi presisi di luar ruangan.
Sistem suara berbasis AI yang memberikan informasi audio kepada pengguna berdasarkan pengenalan lingkungan.
Pengguna cukup memegang gagang koper, sementara sistem secara otomatis mengatur arah, kecepatan, serta menghindari hambatan di sekitar.
Pengembangan terbaru juga difokuskan agar pergerakan perangkat semakin halus (smooth), termasuk untuk membantu pengguna menyeberang jalan yang dilengkapi lampu lalu lintas.
Tahap Uji Coba dan Implementasi
Sejak diperkenalkan dalam bentuk prototipe pada 2017, AI Suitcase telah melalui sejumlah tahap uji coba di berbagai fasilitas publik seperti museum dan pusat pameran.
Teknologi ini juga diproyeksikan mendukung terciptanya lingkungan yang lebih inklusif dalam ajang internasional, termasuk di Expo 2025 Osaka Kansai antara 13 Februari 2025 - 13 Oktober 2025.
Pengembangan AI Suitcase mencerminkan strategi Jepang dalam memadukan kemajuan robotika dan kecerdasan buatan untuk menjawab tantangan sosial, khususnya dalam meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas.
Baca juga: Rombongan Disabilitas Tuna Netra hingga Driver Ojol Ikut Open House di Istana
"Inovasi ini diharapkan menjadi model penerapan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan kesetaraan akses di ruang publik."
Ke depan, para pengembang menargetkan peningkatan daya tahan baterai, penyempurnaan sistem navigasi lintas jalan, serta pengurangan bobot perangkat agar lebih praktis digunakan secara luas.
Diskusi teknologi di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.