Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
Jadwal Imsakiyah
Kamis, 05 Maret 2026 (15 Ramadan 1447 H)
Kota Jakarta
Imsak 04:33
Subuh 04:43
Zhuhr 12:08
‘Ashr 15:08
Maghrib 18:13
‘Isya’ 19:22

Barat: Rusia Kehilangan Banyak Prajurit, Tak Sanggup Lancarkan Serangan Besar hingga Beberapa Bulan

Secara keseluruhan, jumlah korban jiwa di kalangan militer Rusia yang telah dikonfirmasi telah melampaui 200.000 jiwa

zoom-in Barat: Rusia Kehilangan Banyak Prajurit, Tak Sanggup Lancarkan Serangan Besar hingga Beberapa Bulan
Ivan Vysochinskiy / TASS
MERUNDUK - Seorang tentara Rusia di sebuah parit garis depan pertempuran Ukraina tampak merunduk saat melakukan serbuan. Banyak di antara Rusia yang dilaporkan dieksekusi perwira mereka sendiri di medan perang. 

Barat: Rusia Kehilangan Banyak Prajurit, Tak Sanggup Lancarkan Serangan Besar hingga Beberapa Bulan

TRIBUNNEWS.COM - Kerugian besar di medan perang kemungkinan membuat Rusia urung melancarkan serangan besar baru di Ukraina dalam beberapa bulan mendatang.

Dilansir Bloomberg, analisis itu diungkapkan para pejabat Barat dan analis militer, saat perang Rusia-Ukraina kini memasuki tahun kelima.

"Kerugian Rusia di medan perang telah melebihi rekrutmen bulanan mereka sebanyak 30.000 hingga 35.000 tentara kontrak baru selama tiga bulan berturut-turut," demikian disampaikan para pejabat Barat kepada Bloomberg dengan syarat anonim.

Baca juga: Rudal Flamingo, Amunisi Lokal Ukraina yang Sasar Pabrik Rudal Balistik Rusia di Udmurtia

Kehilangan banyak prajurit dinilai akan meningkatkan kemungkinan mobilisasi pertama Rusia merekrut personel militer sejak musim gugur 2022.

Tren tersebut kemungkinan akan melemahkan kemampuan Moskow untuk melancarkan serangan besar baru besar dalam beberapa bulan mendatang, kata para pejabat.

“Kita telah melihat peningkatan korban jiwa yang tidak proporsional dan beberapa situasi ekonomi di Rusia mulai menjadi cukup genting, terutama saat kita memasuki musim panas,” tulis Bloomberg mengutip pernyataan Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, Al Carns.

Dia mengatakan Kremlin mungkin terpaksa meningkatkan upaya perekrutan personel militer di kota-kota besar setelah sebagian besar berfokus pada daerah pedesaan yang lebih miskin dalam empat tahun pertama perang.

Carns memprediksi, aksi Rusia terpaksa merekrut di wilayah-wilayah ini akan "mulai melemahkan dan memecah belah sebagian dukungan politik yang ada di daerah-daerah dengan kepadatan penduduk tinggi tersebut."

Moskow tetap menjadi wilayah federal dengan tingkat kematian terkonfirmasi terendah, yaitu lima kematian per 10.000 pria, menurut perhitungan layanan Rusia BBC dan media pengasingan Mediazona berdasarkan data sumber terbuka.

Di wilayah yang kurang beruntung secara ekonomi seperti republik Buryatia dan Tuva, angkanya masing-masing 27 dan 33 kali lebih tinggi.

Perbedaan etnis dan geografis juga ada dalam angka mentah, dengan analisis menunjukkan 2.437 dari korban tewas perang yang terkonfirmasi berasal dari Moskow dibandingkan dengan Bashkortostan (9.331), Tatarstan (7.585) dan Oblast Sverdlovsk (6.700). 

Secara keseluruhan, jumlah korban jiwa di kalangan militer Rusia yang telah dikonfirmasi telah melampaui 200.000 jiwa, menurut data yang sama.

Pakai Jasa Warga Negara Asing

Menteri Pertahanan Inggris John Healey sebelumnya mengatakan kepada Bloomberg bahwa Moskow semakin sering menggunakan warga negara asing untuk mengisi kembali barisan pasukannya. 

Dia memperkirakan bahwa sekitar 17.000 tentara Korea Utara telah dikerahkan untuk mendukung operasi Rusia dan mengatakan bahwa Rusia merekrut ribuan orang dari India, Pakistan, Nepal, Nigeria, Senegal, dan Kuba.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas