Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Khamenei Tewas, Mantan Dubes RI untuk Iran: Perang Bisa Lebih Lama

Dian Wirengjurit mengatakan, kematian Ayatullah Ali Khamenei bisa menyebabkan perang antara Iran dengan Israel-AS berlangsung lebih lama.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Ringkasan Berita:

TRIBUNNEWS.COM - Duta Besar (Dubes) RI untuk Iran (2012-2016) Dian Wirengjurit mengatakan, kematian Pemimpin Tinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei bisa menyebabkan perang antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat (AS) berlangsung lebih lama.

"Saya tadinya membayangkan perang kali ini juga tidak akan lama karena sekadar uji coba. Tapi buat saya dengan kejadian konfirmasi tewasnya Ayatullah Ali Khamenei, ceritanya agak berubah lagi bahwa perang mungkin lebih lama karena pasti Iran lebih mengerahkan kekuatan-kekuatan yang ada di berbagai front untuk lebih diarahkan kepada sasaran-sasaran yang lebih tertuju."

"Sehingga perang mungkin akan lebih lama, tapi yang pasti tetap akan berlanjut dengan intensitas yang lebih tinggi," ucap Dian dalam tayangan Kompas TV, Minggu (1/3/2026).

Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi mengaku sependapat dengan Dian Wirengjurit bahwa perang Iran vs AS-Israel bisa berlangsung lebih lama.

Ia lantas menjelaskan dua kemungkinan yang terjadi pasca-tewasnya Khamenei. Pertama, dari perspektif Israel-AS yang menginginkan pergantian rezim.

Presiden AS Donald Trump, sambungnya, akan memprovokasi masyarakat Iran untuk turun ke jalan mengganti rezim yang saat ini berkuasa.

"Jadi kalau memang ini akan terjadi, maka akan kita saksikan ke depan terutama dalam bentuk aksi-aksi jalanan yang itu juga didukung oleh Trump, diprovokasi oleh Trump agar rakyat-rakyat Iran pada turun ke jalan untuk mengganti rezimnya," ucap Hasibullah.

Rekomendasi Untuk Anda

Dengan begitu, diharapkan Iran bisa kembali berkongsi dengan Israel seperti sebelum peristiwa revolusi 1979.

Kemudian, perspektif yang kedua adalah kematian Khamenei menjadi momentum untuk memperbaharui revolusi Islam Iran.

"Dengan cara meningkatkan aksi perlawanan, terutama kepada Amerika yang memang dalam dalam konteks perspektif ini disebut sebagai setan. (AS) setan besar dan Israel disebut sebagai setan kecil." 

"Jadi saya melihat ketidakpastian Iran ke depan itu akan lebih panjang, lebih lama dalam dua kemungkinan tadi," ucap Hasibullah.

Baca juga: Pengamat: Serangan Iran Tak Menurun meski Ayatullah Ali Khamenei Tewas

Sikap Presiden Iran

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam keras pembunuhan terhadap Ayatullah Ali Khamenei.

Pezeshkian menegaskan, kematian Ayatullah Ali Khamenei sebagai “kejahatan besar” yang tidak akan dibiarkan tanpa balasan.

Ia menyebut, kematian Khamenei akan menjadi titik balik dalam sejarah dunia Islam dan Syiah. 

Menurutnya, Iran akan merespons dengan penuh kekuatan dan tekad. Hal itu disampaikan Pezeshkian dalam pernyataannya yang dirilis Kantor Kepresidenan Iran.

"Kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa jawaban dan akan membuka lembaran baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah." 

"Darah suci pemimpin tinggi ini akan mengalir seperti mata air yang bergemuruh dan akan melenyapkan penindasan serta kejahatan Amerika-Zionis," ujarnya, dikutip dari Aljazeera, pada Minggu.

Presiden Iran juga menegaskan bahwa pemerintahannya, dengan dukungan bangsa Islam dan masyarakat dunia yang disebutnya sebagai “kaum bebas”, akan memastikan para pelaku dan pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut menyesal atas tindakan mereka.

Selain pernyataan politik yang keras, Pezeshkian mengumumkan penetapan tujuh hari libur nasional serta 40 hari masa berkabung sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya Khamenei.

Diberitakan sebelumnya, media pemerintah Iran mengonfirmasi tewasnya Ayatullah Ali Khamenei dalam serangan berkelanjutan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap negara tersebut.

Laporan yang sama menyebut putri, menantu, dan cucu Khamenei turut menjadi korban.

Selain itu, media pemerintah melaporkan sedikitnya 108 orang tewas akibat serangan di sebuah sekolah di Iran selatan.

Secara keseluruhan, korban jiwa disebut mencapai sedikitnya 201 orang yang tersebar di 24 provinsi.

(Tribunnews.com/Deni/Chaerul)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas