Starmer Siap Bantu Negara Teluk Cegat Drone Iran, Libatkan Pakar dari Ukraina dan Militer Inggris
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer mengatakan pakar dari Ukraina akan membantu negara-negara Teluk mencegat drone Iran.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Sri Juliati
Ringkasan Berita:
- Keir Starmer menyatakan Inggris akan membantu negara-negara Teluk mencegat drone Iran dengan melibatkan pakar dari Ukraina.
- Sementara itu, Rusia meningkatkan serangan rudal dan drone ke Ukraina sepanjang Februari, terutama menargetkan infrastruktur energi.
- Presiden Volodymyr Zelensky juga memuji langkah Belgia yang menyita kapal tanker diduga bagian dari armada bayangan Rusia.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.468 pada Senin (2/3/2026).
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer mengatakan pakar dari Ukraina akan membantu negara-negara Teluk mencegat drone Iran.
Langkah itu diambil setelah serangan balasan Iran menyusul operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran.
Starmer menegaskan Inggris tidak terlibat langsung dalam serangan tersebut.
Namun London akan terus menjalankan langkah pertahanan di kawasan Timur Tengah.
Inggris juga berencana mengirim pakar militer bersama ahli Ukraina untuk membantu mitra Teluk menembak jatuh drone Iran.
Sementara itu analisis Agence France-Presse menunjukkan Rusia meningkatkan serangan rudal ke Ukraina sepanjang Februari.
Rusia dilaporkan menembakkan 288 rudal dan lebih dari 5.000 drone jarak jauh, terutama menargetkan infrastruktur energi Ukraina.
Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan perubahan situasi di Iran harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyatnya.
Ia juga menuduh Teheran memasok drone Shahed kepada Rusia yang telah digunakan dalam perang di Ukraina.
Di sisi lain, Belgia menyita kapal tanker Ethera yang diduga bagian dari armada bayangan Rusia untuk menghindari sanksi Barat.
Baca juga: Kronologi Anak Bos Kriminal Ukraina Diculik di Bali, Dimintai Tebusan Rp 168 Miliar
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina dimulai secara terbuka pada 24 Februari 2022, saat Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke sejumlah wilayah Ukraina.
Serangan ini terjadi setelah hubungan kedua negara memburuk selama bertahun-tahun, terutama karena perbedaan sikap politik dan keamanan.
Akar konflik bermula sejak runtuhnya Uni Soviet, ketika Rusia dan Ukraina menjadi negara merdeka dengan arah kebijakan yang berbeda.
Ukraina kemudian semakin mendekat ke negara-negara Barat, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, melalui kerja sama politik, ekonomi, dan pertahanan.