Update Konflik Iran vs Israel-AS Selasa Pagi: Ledakan di Kedubes AS di Riyadh, Status Selat Hormuz
Ledakan drone menghantam Kedutaan Besar AS di Riyadh dan memicu kebakaran serta kerusakan kecil.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
- Ledakan drone menghantam Kedutaan Besar AS di Riyadh dan memicu kebakaran serta kerusakan kecil.
- Status Selat Hormuz masih diperdebatkan karena Iran mengklaim menutup jalur vital energi dunia, sementara AS menyatakan tetap terbuka.
- Israel melancarkan serangan ke Lebanon dan Iran, menewaskan ratusan orang, sementara pemerintah Lebanon melarang aktivitas militer Hizbullah.
TRIBUNNEWS.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak pada Selasa (3/3/2026) pagi.
Sebuah ledakan dilaporkan terjadi di kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi, memicu kekhawatiran baru atas eskalasi konflik Iran dengan Israel dan AS.
Pada saat yang sama, perhatian dunia tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global, yang status keamanannya kini menjadi sorotan utama.
Mengutip The Guardian dan Al Jazeera, berikut pembaruan situasi terkini di Timur Tengah.
Ledakan di Riyadh
Kebakaran terjadi di Kedutaan Besar AS di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, setelah terjadi sebuah ledakan, menurut laporan Reuters yang mengutip dua sumber.
Ledakan keras terdengar dan kepulan asap terlihat di kawasan diplomatik kota, tempat kedutaan asing dan kediaman para diplomat berada, kata empat saksi kepada Agence France-Presse pada Selasa (3/3/2026) pagi.
“Saya mendengar dua ledakan diikuti asap yang membumbung di atas kawasan itu,” kata seorang warga.
Ledakan tersebut, terdengar saat Iran melanjutkan serangan balasan yang menargetkan negara-negara Teluk setelah negaranya diserang AS-Israel hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026).
Kementerian Pertahanan Arab Saudi kemudian mengatakan bahwa Kedutaan Besar AS di Riyadh dihantam dua drone, yang mengakibatkan kebakaran serta kerusakan kecil.
Pernyataan Berbeda Mengenai Status Penutupan Selat Hormuz
Terdapat ketidakpastian mengenai status Selat Hormuz, jalur pelayaran utama bagi pasokan minyak dunia.
Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan, selat tersebut ditutup dan mengancam akan menembak kapal mana pun yang mencoba melintasinya.
“Selat Hormuz ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal tersebut,” kata Ebrahim Jabari, penasihat senior panglima tertinggi Garda Revolusi, dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah.
Baca juga: 4 Tujuan Perang Trump di Iran: Lumpuhkan Kemampuan Rudal hingga Penghentian Nuklir
Namun, Komando Pusat AS (Centcom) kemudian menyatakan bahwa selat tersebut tidak ditutup, meskipun ada pernyataan dari pejabat Iran, seperti dilaporkan Fox News pada Senin.
Ancaman Iran untuk menembak kapal merupakan peringatan paling eksplisit sejak mereka memberi tahu kapal-kapal bahwa jalur ekspor akan ditutup pada Sabtu.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, terutama bagi minyak dan gas, dengan sekitar 20 persen minyak yang diangkut melalui laut secara global melewati selat ini.
Meski demikian, beberapa analis percaya bahwa penutupan selat tidak akan memengaruhi jalur pelayaran utama Asia-Eropa, karena Teluk berakhir di jalan buntu di pantai Kuwait, Irak, dan Iran.
Namun, selat ini sangat penting bagi seluruh perdagangan regional karena memungkinkan akses ke Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, pelabuhan peti kemas terbesar ke-10 di dunia dan pusat redistribusi bagi lebih dari selusin negara di kawasan tersebut.
Israel Bombardir Lebanon
Militer Israel menyatakan dalam unggahan di media sosial pada Selasa pagi bahwa mereka menargetkan fasilitas Hizbullah di ibu kota Lebanon.
“IDF mulai menyerang markas dan gudang senjata organisasi teroris Hizbullah di Beirut. Rincian lebih lanjut akan menyusul,” kata militer Israel dalam unggahan tersebut.
Saluran berita Al-Manar yang berafiliasi dengan Hizbullah melaporkan bahwa Israel menargetkan gedung mereka di Haret Hreik, pinggiran selatan Beirut.
Militer Israel juga mengonfirmasi telah membunuh Adham Adnan al-Othman, yang mereka sebut sebagai komandan Jihad Islam Palestina di Lebanon.
Pengumuman ini muncul setelah Brigade Quds, sayap bersenjata Jihad Islam Palestina, mengatakan bahwa al-Othman tewas pada Senin malam.
Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut al-Othman telah memegang posisi komandan selama beberapa tahun dan bertanggung jawab atas perencanaan serangan terhadap Israel.
Baru-baru ini ia terus bekerja atas nama kelompok tersebut di Lebanon, termasuk melatih operator, merekrut anggota, dan memperoleh senjata, demikian tuduhan mereka.
Lebanon Larang Aksi Militer Hizbullah
Pemerintah Lebanon mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan melarang aktivitas militer dan keamanan Hizbullah.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, dikutip AFP mengatakan setelah rapat kabinet darurat pada Senin:
"Negara Lebanon menyatakan penolakan mutlak dan tegas terhadap setiap tindakan militer atau keamanan yang diluncurkan dari wilayah Lebanon di luar kerangka lembaga-lembaga yang sah."
"Hal ini mengharuskan pelarangan segera terhadap seluruh aktivitas keamanan dan militer Hizbullah karena dianggap melanggar hukum, serta mewajibkannya menyerahkan senjata."
Hizbullah diwakili di pemerintahan dan parlemen.
Langkah pemerintah ini diambil beberapa jam setelah kelompok militan yang didukung Iran tersebut mengatakan telah menyerang Israel pada Senin pagi sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Israel kemudian mulai membombardir pinggiran selatan Beirut dan wilayah selatan Lebanon, menewaskan sedikitnya 52 orang dan melukai 154 orang, menurut pemerintah Lebanon.
Sebagai tanggapan atas larangan pemerintah, kepala blok parlemen Hizbullah, Mohammed Raad, mengecam keputusan tersebut dengan mengatakan bahwa rakyat Lebanon mengharapkan keputusan yang menolak agresi Israel.
Israel Serang Iran
Selain menyerang Lebanon, Israel juga melancarkan serangan ke Iran.
Terbaru, serangan udara besar-besaran Israel menargetkan stasiun televisi pemerintah Iran (IRIB) dan wilayah lain di Teheran.
Belum ada korban jiwa yang dilaporkan.
Jumlah Korban dan Kerusakan
Militer AS menyatakan telah menyerang lebih dari 1.250 target di Iran sejak operasi dimulai pada Sabtu (28/2/2026).
Jumlah anggota militer AS yang tewas di Iran meningkat menjadi 6 orang, kata militer AS pada Senin waktu setempat.
Serangan gabungan AS-Israel telah menewaskan sedikitnya 555 orang di Iran sejak serangan udara dimulai pada Sabtu, menurut Bulan Sabit Merah.
Trump: Operasi Diperkirakan 4–5 Minggu
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin waktu setempat bahwa pemerintahannya memperkirakan operasi militer terhadap Iran akan berlangsung selama empat hingga lima minggu.
Trump juga menyoroti kemampuan Amerika Serikat untuk bertahan jauh lebih lama dari perkiraan tersebut.
Ia menyampaikan pernyataan itu saat menghadiri acara penganugerahan Medali Kehormatan kepada tiga prajurit Angkatan Darat AS.
“Sejak awal, kami memperkirakan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu,” katanya tentang operasi yang diberi kode nama “Operasi Epic Fury”, mengutip Korea Herald.
Ia menegaskan kembali bahwa Amerika Serikat memiliki militer “terkuat dan paling berpengaruh” di dunia.
“Kita akan dengan mudah menang. Ini sudah jauh lebih cepat dari perkiraan waktu kita. Tetapi berapa pun lamanya, itu tidak masalah.”
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.