Trump Siapkan Serangan Darat, Iran Terancam Perang Habis-habisan
Trump berencana kirim pasukan darat ke Iran usai Operasi Epic Fury. Konflik terancam meluas, publik AS waspada eskalasi perang besar.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump tak menutup kemungkinan mengirim pasukan darat ke Iran usai meluncurkan “Operasi Epic Fury”.
- Serangan diputuskan setelah negosiasi Jenewa gagal dan klaim intelijen soal pengayaan nuklir rahasia Iran. Jika pasukan darat dikirim, konflik bisa berubah menjadi perang besar dengan dampak global.
- Survei Reuters/Ipsos dan CNN menunjukkan mayoritas warga AS ragu atau menolak. Trump menegaskan kebijakan diambil demi mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa pihaknya tidak mengesampingkan kemungkinan mengirim pasukan darat AS ke Iran “jika diperlukan”.
Ia menyebut opsi tersebut tetap terbuka sebagai bagian dari strategi militer apabila situasi di lapangan mengharuskannya.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada media AS pada Senin, dua hari setelah ia memerintahkan serangan besar terhadap kepemimpinan militer dan politik Iran dalam operasi yang disebut “Operasi Epic Fury.”
“Saya tidak ragu-ragu untuk mengirim pasukan darat seperti yang dikatakan setiap presiden, ‘Tidak akan ada pasukan darat'. Saya tidak mengatakannya,” kata Trump, Selasa (3/3/2026).
“Saya mengatakan ‘mungkin tidak membutuhkannya' [atau] ‘jika diperlukan'," lanjut dia.
Senada dengan Presiden, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada pasukan Amerika yang ditempatkan di dalam wilayah Iran.
Namun, ia juga tidak menutup kemungkinan pengerahan tersebut jika dianggap perlu untuk melindungi kepentingan Amerika.
Potensi Eskalasi Konflik Meluas
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa keputusan melancarkan serangan terhadap Iran diambil setelah pembicaraan terakhir di Jenewa gagal mencapai kesepakatan.
Menurut Trump, langkah militer itu didasarkan pada temuan intelijen AS yang menyebut Iran diam-diam melanjutkan aktivitas pengayaan nuklir di lokasi berbeda yang sebelumnya tidak terdeteksi.
“Kami menemukan mereka berada di lokasi yang sama sekali berbeda untuk membuat senjata nuklir melalui pengayaan. Jadi hanya masalah waktu,” ujar Trump.
Trump menegaskan bahwa membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir akan menjadi ancaman yang jauh lebih besar dibandingkan risiko konflik regional.
Ia menyebut tindakan militer sebagai langkah pencegahan demi melindungi kepentingan keamanan Amerika Serikat dan sekutunya meski pemerintah Iran secara konsisten membantah tuduhan tersebut, menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan untuk kepentingan energi sipil, bukan pengembangan senjata.
Tak dirinci kapan pengerahan pasukan darat akan dilakukan, namun upaya ini memicu spekulasi bahwa konflik antara AS dan Iran berpotensi meningkat dari serangan udara dan rudal menjadi operasi darat yang lebih luas.
Baca juga: Hadapi Konflik AS–Israel dan Iran, Legislator Golkar Tekankan Diplomasi Berlandaskan Pancasila
Jika Amerika Serikat benar-benar mengerahkan pasukan darat, hal itu akan menjadi fase baru dalam konflik dengan risiko korban yang lebih besar serta dampak geopolitik yang signifikan, termasuk terhadap stabilitas regional dan harga energi global.
Meski demikian, Gedung Putih mengklaim operasi militer yang sedang berlangsung menunjukkan hasil signifikan dan berjalan lebih cepat dari perkiraan awal. Pemerintah AS menilai tekanan militer yang diberikan telah melemahkan sejumlah target strategis Iran.
Baca tanpa iklan