Pertahanan Udara Saudi Hancurkan Rudal dan Drone yang Mengarah ke Al-Kharj
Arab Saudi cegat empat rudal dan lima drone yang menargetkan wilayah kerajaan di tengah eskalasi konflik kawasan Timur Tengah
Editor:
Eko Sutriyanto
Serangan itu memicu gelombang serangan balasan dari Teheran terhadap berbagai target di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang meningkat tajam sejak 28 Februari 2026 kini telah meluas ke sejumlah negara di kawasan Teluk.
Baca juga: Kemlu RI Ungkap 3 Poin Surat Prabowo Untuk Presiden Iran, Utarakan Solidaritas Hingga Tawaran Dialog
Negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) dilaporkan turut mengalami serangan.
Serangan yang diklaim berasal dari Iran di wilayah Teluk dilaporkan telah menewaskan sedikitnya sembilan orang.
Jalur Energi dan Perdagangan Terganggu
Ketegangan keamanan juga berdampak pada sektor maritim di kawasan Teluk.
Serangan rudal terhadap kapal komersial di perairan dekat Oman memicu penumpukan sekitar 150 kapal tanker di sekitar Strait of Hormuz.
Akibatnya, lalu lintas pengiriman minyak melalui jalur strategis tersebut dilaporkan anjlok hingga sekitar 86 persen.
Arab Saudi juga mengecam keras serangan drone dan rudal yang disebut menargetkan Azerbaijan serta ruang udara Turkey yang dilindungi oleh NATO.
Dalam pertemuan luar biasa para menteri luar negeri negara anggota GCC yang digelar di Riyadh pada 1 Maret, negara-negara Teluk menegaskan hak kolektif mereka untuk mempertahankan wilayah dari apa yang disebut sebagai “agresi Iran”.
Sementara itu, setelah rapat kabinet yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada 3 Maret, pemerintah Saudi menegaskan bahwa kerajaan memiliki hak penuh untuk memberikan respons atas serangan yang terus berulang.
Kabinet juga menegaskan bahwa Arab Saudi akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi wilayah, warga negara, serta penduduknya dari ancaman keamanan yang semakin meningkat di kawasan.