IRGC Siap Terima Perintah dari Mojtaba Khamenei, Militer Iran Nyatakan Setia
IRGC siap menerima perintah dari Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran yang baru terpilih oleh Majelis Pakar. Militer Iran menyatakan kesetiaan.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Namanya juga sering disebut-sebut di kalangan politik sebagai calon penerus ayahnya.
Presiden Iran Sambut Pemimpin Tertinggi Iran
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyambut baik terpilihnya Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru oleh Majelis Pakar Iran.
Ia mengatakan pengangkatan Mojtaba Khamenei menandai "era baru martabat dan kekuatan" bagi bangsa tersebut.
“Pilihan berharga ini merupakan manifestasi dari keinginan bangsa Islam untuk memperkuat persatuan nasional; persatuan yang, seperti penghalang yang kokoh, telah membuat bangsa Iran kebal terhadap konspirasi musuh,” kata Pezeshkian dalam sebuah pernyataan, menurut kantor berita Fars.
Perang AS-Israel VS Iran
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Sejumlah rudal dilaporkan menghantam berbagai wilayah di negara tersebut, termasuk ibu kota Tehran.
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026.
Pertemuan yang merupakan putaran ketiga itu berakhir tanpa kesepakatan, dan kedua pihak berencana melanjutkan pembicaraan pada tahap berikutnya.
Selama ini, Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir melalui program nuklirnya.
Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankannya semata-mata untuk tujuan damai, seperti pengembangan energi dan penelitian ilmiah.
Ketegangan antara kedua pihak sebenarnya sudah meningkat sejak tahun sebelumnya. Pada 22 Juni 2025, Amerika Serikat menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran untuk mendukung operasi militer Israel yang berlangsung selama 12 hari terhadap negara tersebut.
Serangan itu sempat memperburuk hubungan AS-Iran, dan AS mendesak Iran kembali ke perundingan nuklir, mengancam negara itu dengan "opsi militer" jika tidak memenuhi tuntutan AS.
Kedua pihak sepakat melanjutkan dialog melalui perundingan, dengan Oman berperan sebagai mediator.
Oman bahkan menyatakan bahwa pembicaraan di Jenewa menunjukkan adanya “kemajuan signifikan”, meskipun masih ada sejumlah isu penting yang belum mencapai kesepakatan.
Karena perbedaan pandangan yang masih besar, perjanjian final belum berhasil dicapai. Kedua pihak sebenarnya telah merencanakan pertemuan lanjutan untuk membahas poin-poin yang belum disepakati.
Namun, harapan untuk melanjutkan proses diplomasi kembali runtuh setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan baru ke Iran pada 28 Februari.
Menyusul serangan tersebut, Iran memutuskan untuk menarik diri dari proses perundingan selama operasi militer AS dan Israel terhadap negaranya masih berlangsung.
Menurut laporan terbaru, Qatar dan Arab Saudi menggagalkan serangan rudal yang menargetkan negara Teluk tersebut.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)