Pertama Kali, Bomber B-1 AS Lepas Landas dari Inggris Menuju Iran
Pertama kalinya, bomber B-1 AS lepas landas dari pangkalan militer Fairford di Inggris menuju Iran untuk meluncurkan serangan di wilayah tersebut.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nuryanti
Ini merupakan pertama kalinya pesawat B-52 terlihat di Inggris sejak perang AS-Israel melawan Iran berlangsung.
Sebagai salah satu pesawat pembom berat Angkatan Udara AS yang paling lama bertugas dan paling serbaguna, B-52 mampu membawa hingga 31.751 kilogram (hampir 70.000 pon) berbagai jenis persenjataan.
Sebelumnya, Starmer sempat menolak memberikan izin kepada AS untuk menggunakan pangkalan militer di Inggris dalam serangan gabungan dengan Israel terhadap Iran.
Keputusan itu sempat memicu perselisihan dengan Presiden AS Donald Trump.
Namun, dalam pernyataan video yang dirilis pada Minggu, perdana menteri Inggris akhirnya mengabulkan permintaan AS demi "pertahanan diri kolektif" sekutu dan untuk melindungi nyawa warga Inggris, lapor Anadolu Agency.
Perang AS-Israel Vs Iran
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, dengan menembakkan sejumlah rudal ke berbagai wilayah di negara tersebut, termasuk ibu kota Teheran.
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran digelar di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026.
Pertemuan putaran ketiga itu berakhir tanpa kesepakatan. Meski demikian, kedua pihak sebelumnya sempat berencana melanjutkan pembicaraan pada tahap berikutnya.
Selama ini, Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir melalui program nuklirnya.
Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankannya semata-mata untuk tujuan damai, seperti pengembangan energi dan penelitian ilmiah.
Ketegangan antara kedua pihak sebenarnya telah meningkat selama bertahun-tahun, dan perjanjian nuklir tahun 2015 tidak berjalan dengan baik.
Pada 22 Juni 2025, Amerika Serikat menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran untuk mendukung serangan Israel terhadap negara tersebut yang berlangsung selama 12 hari.
Serangan itu semakin memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Washington kemudian mendesak Teheran kembali ke meja perundingan nuklir, bahkan mengancam dengan "opsi militer" jika Iran tidak memenuhi tuntutan AS.
Selama beberapa bulan terakhir, kedua pihak sempat sepakat melanjutkan dialog melalui perundingan dengan Oman sebagai mediator.
Baca tanpa iklan