Pengamat Soroti Pengembangan Rudal Iran dalam Konteks Teknologi Nuklir Modern
Pengamat nuklir Rahmat Sorialam Harahap menganalisa kemampuan rudal Iran yang dilaporkan memiliki kecepatan sangat tinggi dan daya hancur besar.
Ringkasan Berita:
- Rudal Iran dilaporkan memiliki kecepatan hipersonik hingga Mach 10 dan daya hancur besar, yang diduga memanfaatkan teknologi nuklir modern, termasuk potensi penggunaan thorium.
- Iran tidak mengembangkan teknologi militernya secara sendiri, tetapi belajar dan bekerja sama dengan negara-negara seperti Rusia dan China, termasuk melalui transfer pengetahuan nuklir dari teknisi Rusia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perkembangan teknologi militer global dinilai semakin kompleks seiring kemajuan teknologi nuklir modern yang tidak hanya dimanfaatkan untuk energi, tetapi juga berpotensi memengaruhi sistem persenjataan.
Pengamat nuklir Rahmat Sorialam Harahap menilai kemampuan rudal Iran yang dilaporkan memiliki kecepatan sangat tinggi dan daya hancur besar tidak lepas dari perkembangan teknologi nuklir modern.
"Iran tidak mengembangkan teknologi militernya secara terisolasi. Negara tersebut diketahui menjalin kerja sama dan mempelajari teknologi dari negara dengan tradisi kuat dalam pengembangan nuklir dan militer seperti Rusia dan China," kata Rahmat kepada wartawan, Jumat (13/3/2026).
Rahmat menyebut sebelum meningkatnya ketegangan geopolitik beberapa tahun terakhir, puluhan teknisi nuklir dari Rusia dilaporkan pernah bekerja di Iran untuk membantu proses transfer pengetahuan terkait teknologi nuklir modern.
Menurut Rahmat, perkembangan teknologi nuklir saat ini tidak lagi hanya bergantung pada pendekatan lama.
"Dalam teknologi nuklir modern terdapat dua pendekatan utama yang menjadi dasar pengembangan energi maupun teknologi persenjataan," kata dia.
Pendekatan pertama adalah teknologi berbasis uranium yang merupakan generasi awal dalam pengembangan nuklir.
"Uranium telah lama menjadi fondasi bagi banyak reaktor serta sistem persenjataan nuklir yang dikembangkan negara besar, termasuk Amerika Serikat," kata Rahmat.
Sementara itu, pendekatan kedua adalah teknologi berbasis thorium yang dinilai sebagai generasi nuklir lebih modern. Thorium disebut memiliki potensi energi jauh lebih besar dibandingkan uranium.
Secara teoritis, satu kilogram thorium dapat menghasilkan energi setara dengan sekitar dua ratus kilogram uranium.
"Perbedaan pendekatan teknologi tersebut turut memengaruhi arah pengembangan nuklir di berbagai negara. Amerika Serikat diketahui masih banyak menggunakan uranium karena memiliki cadangan besar, sementara Rusia mulai mengeksplorasi penggunaan thorium dalam berbagai aplikasi teknologi nuklir yang lebih maju," kata Rahmat.
Langkah tersebut kemudian diikuti China yang secara agresif mengembangkan teknologi nuklirnya. Dalam perkembangan selanjutnya, negara seperti Iran dan Korea Utara juga diduga mengadopsi arah pengembangan teknologi serupa.
Rahmat menilai performa sejumlah rudal Iran yang dilaporkan mampu melaju hingga kecepatan hipersonik sekitar Mach 10 memunculkan analisis bahwa teknologi nuklir generasi baru berpotensi berperan dalam pengembangannya.
Dalam skenario tersebut, thorium tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan dalam sistem bahan bakar maupun teknologi hulu ledak.
Baca tanpa iklan