Analisis Profesor Uppsala: Masalah Penting Konflik Teluk Tidak Cuma Minyak
Di tengah konflik Teluk yang kerap dikaitkan dengan minyak, pakar Uppsala Ashok Swain memperingatkan ancaman krisis air.
Penulis:
Facundo Chrysnha Pradipha
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Konflik yang memanas di kawasan Teluk selama ini sering dikaitkan dengan minyak.
- Namun pakar perdamaian dan konflik dari Universitas Uppsala, Ashok Swain, menilai air justru menjadi isu strategis yang sering terabaikan.
- Ketergantungan negara-negara Teluk pada desalinasi membuat infrastruktur air sangat rentan dalam konflik.
TRIBUNNEWS.COM - Konflik yang terus memanas di kawasan Teluk selama ini sering dipandang terutama berkaitan dengan perebutan sumber daya energi, khususnya minyak.
Namun, sejumlah analis menilai ada faktor lain yang tak kalah krusial dan berpotensi menjadi sumber kerentanan besar di kawasan tersebut, yakni air.
Profesor riset perdamaian dan konflik dari Universitas Uppsala, Swedia, Ashok Swain, menilai perhatian publik global masih terlalu terfokus pada minyak, padahal persoalan air memiliki implikasi strategis yang sama pentingnya dalam dinamika konflik di Timur Tengah.
Swain, yang juga menjabat sebagai Ketua UNESCO untuk Kerja Sama Air Internasional di Universitas Uppsala, mengatakan bahwa krisis air dan ketergantungan terhadap infrastruktur penyedia air bersih menjadi faktor yang sering diabaikan dalam pembahasan konflik di kawasan Teluk.
Menurutnya, banyak negara di kawasan tersebut memiliki sumber air tawar yang sangat terbatas karena kondisi geografis yang kering dan minim sungai permanen. Kondisi itu membuat negara-negara Teluk sangat bergantung pada teknologi desalinasi, yaitu proses mengubah air laut menjadi air tawar untuk kebutuhan domestik dan industri.
Ketergantungan tersebut membuat air menjadi sumber daya strategis yang sangat rentan ketika konflik bersenjata terjadi. Swain menilai, serangan terhadap infrastruktur air dapat menimbulkan dampak kemanusiaan yang jauh lebih cepat dibandingkan gangguan terhadap sektor energi.
Ia menekankan bahwa fokus yang berlebihan pada minyak dalam konflik kawasan Teluk sering kali mengaburkan fakta bahwa keberlangsungan hidup masyarakat di wilayah tersebut justru bergantung pada pasokan air bersih.
“Banyak perhatian tertuju pada minyak, tetapi air juga merupakan kekhawatiran besar,” tulis Swain dalam analisisnya mengenai konflik di Teluk, dikutip dari scroll.in.
Kekhawatiran tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk yang melibatkan berbagai negara.
Dalam beberapa insiden terbaru, infrastruktur air seperti fasilitas desalinasi bahkan disebut menjadi target serangan, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan potensi krisis air di kawasan tersebut.
Baca juga: Trump Minta Jepang Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, PM Takaichi: Belum Ada Rencana!
Negara-negara Teluk diketahui sangat bergantung pada fasilitas desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air minum.
Di Kuwait misalnya, sekitar 90 persen air minum berasal dari proses desalinasi, sementara Oman sekitar 86 persen dan Arab Saudi sekitar 70 persen.
Ketergantungan yang tinggi pada sejumlah instalasi besar membuat sistem penyediaan air di kawasan tersebut menjadi sangat rentan.
Serangan terhadap beberapa fasilitas saja berpotensi memicu krisis air yang cepat bagi jutaan penduduk di kota-kota besar.
Baca tanpa iklan