Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mesir dan UEA Minta Perang Iran Diredam, Negara Teluk Bertahan di Tengah Ancaman

Mesir dan UEA serukan deeskalasi perang Iran saat serangan meningkat, negara Teluk masih memilih bertahan dari konflik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Ringkasan Berita:
  • Mesir dan UEA mendesak penghentian eskalasi perang Iran melalui jalur diplomasi.
  • Negara-negara Teluk masih memilih bertahan meski terus menjadi target serangan.
  • Risiko konflik regional meningkat jika serangan Iran terus berlanjut.
 

 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Mesir  Abdel Fattah el-Sisi dan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Mohamed bin Zayed Al Nahyan menggelar pertemuan penting di Abu Dhabi untuk membahas dampak perang antara AS, Israel, dan Iran yang kian memanas.

Pertemuan tersebut menyoroti kekhawatiran meningkatnya eskalasi militer yang berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke konflik yang lebih luas.

Dikutip dari Kantor berita WAM, Jumat (20/3/2026), kedua pemimpin sepakat bahwa penghentian eskalasi harus menjadi prioritas utama.

Mereka juga menegaskan pentingnya jalur diplomasi sebagai solusi untuk menjaga stabilitas dan keamanan regional.

Dalam kesempatan itu, el-Sisi secara tegas mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara Teluk, termasuk UEA.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menyampaikan solidaritas penuh Mesir terhadap langkah-langkah yang diambil Abu Dhabi dalam melindungi wilayah dan warganya dari ancaman militer.

Sejak konflik pecah, UEA menjadi salah satu target utama serangan Iran yang menyasar kawasan strategis dan infrastruktur vital.

Kementerian Pertahanan UEA menyebut sistem pertahanan udara mereka telah mencegat lebih dari 334 rudal balistik serta sejumlah rudal jelajah dan drone.

Serangan tersebut menunjukkan meningkatnya intensitas konflik yang kini tidak hanya terbatas pada Iran dan Israel, tetapi juga berdampak langsung pada negara-negara Teluk.

Al Jazeera melaporkan eskalasi perang telah meluas ke sektor energi dan wilayah sipil, meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas global.

Baca juga: Satu Dunia dalam Bahaya, Serangan ke Ladang Gas Jadi Eskalasi Berbahaya Perang Iran Vs AS-Israel

Sejumlah fasilitas penting di kawasan Teluk dilaporkan menjadi target, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dunia.

Meski berada di bawah tekanan, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan UEA masih memilih menahan diri dan tidak terlibat langsung dalam konflik.

Mereka sejauh ini mengandalkan strategi defensif dengan memperkuat sistem pertahanan udara dan keamanan nasional.

Lembaga riset Chatham House menilai keputusan tersebut didasarkan pada perhitungan risiko yang sangat besar.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas