Netanyahu Ngaku 'Main Sendiri' saat Serang Ladang Gas Iran, Bawa-bawa Nama Trump
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengakui bahwa pihaknya 'bermain sendiri' saat melakukan serangan ke ladang gas Iran.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengakui bahwa pihaknya 'bermain sendiri' saat menyerang fasilitas gas South Pars milik Iran baru-baru ini.
- Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer tersebut dilakukan secara sepihak oleh Israel tanpa campur tangan langsung dari Amerika Serikat (AS).
- Pernyataan ini muncul menyusul klaim Presiden AS Donald Trump sebelumnya yang menyatakan bahwa pihak AS "tidak tahu-menahu" mengenai target spesifik tersebut.
TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akhirnya angkat bicara mengenai serangan udara ke fasilitas gas South Pars milik Iran baru-baru ini.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer tersebut dilakukan secara sepihak oleh Israel tanpa campur tangan langsung dari Amerika Serikat (AS).
"Fakta pertama, Israel bertindak sendiri terhadap kompleks gas South Pars," ujar Netanyahu dalam konferensi pers di Jerusalem, Kamis (19/3/2026) waktu setempat, mengutip The Times of Israel.
Pernyataan ini muncul menyusul klaim Presiden AS Donald Trump sebelumnya yang menyatakan bahwa pihak AS "tidak tahu-menahu" mengenai target spesifik tersebut.
Meski membantah adanya koordinasi langsung dalam serangan itu, Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya kini mengikuti arahan Trump untuk meredakan ketegangan.
"Fakta kedua, Presiden Trump telah meminta kami untuk menahan diri dari serangan serupa di masa depan, dan kami mematuhinya," tambahnya.
Meskipun terdapat kesan ketidaksinkronan antara pernyataan Trump dan aksi militer Israel, Netanyahu menepis isu keretakan hubungan dengan Gedung Putih.
Ia menegaskan tidak perlu meyakinkan Trump mengenai bahaya nuklir Iran karena sang Presiden diklaim sudah memahami risiko tersebut lebih baik dari siapa pun.
"Saya tidak perlu meyakinkan Presiden Trump tentang apa pun."
"Beliau (Trump) yang menjelaskan risiko rudal nuklir Iran kepada saya, bukan sebaliknya," kata Netanyahu.
Dalam kesempatan yang sama, Netanyahu sesumbar bahwa kekuatan militer dan ekonomi Teheran tengah berada di ambang kehancuran.
Baca juga: Rudal Iran Hantam Ladang Gas Ras Laffan Qatar, Harga Gas di Eropa Langsung Naik 35 Persen
Ia menyebut rezim Iran mulai "retak" dan kehilangan kemampuan vitalnya.
"Mereka kehilangan industri yang dibangun selama puluhan tahun—industri kematian."
"Jika mereka mencoba (melawan) lagi, mereka akan dipukul lebih keras," tegasnya.
Netanyahu menutup pernyataannya dengan seruan kepada negara-negara demokrasi untuk berani melawan "tirani" sebelum terlambat.
Baca tanpa iklan