Usai Israel Tembaki Pasukan PBB di Lebanon, Jurnalis Asal Inggris Nyaris Tewas Dirudal
Jurnalis menjadi sasaran rudal Israel, menyusul pengakuan resmi pasukan tempur negara tersebut, atas serangan terhadap pasukan perdamaian PBB.
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Pasukan Israel invasi Lebanon, menyasar kekuatan tempur Hizbulah
- Sementara, pasukan PBB masih berada di Lebanon. Mereka memantau konflik di sepanjang garis demarkasi, yang menjadi area bentrok pasukan Israel dan Hizbullah
- IDF mengakui pasukannya di balik insiden penyerangan pasukan PBB
- Jurnalis jadi sasaran tembak tentara Israel
TRIBUNNEWS.COM - Jurnalis menjadi sasaran rudal Israel, menyusul pengakuan resmi pasukan tempur negara tersebut, atas serangan terhadap pasukan perdamaian PBB (UNIFIL).
Baru-baru ini, Steve Sweeney, Kepala Biro RT (Russian Today) asal Inggris yang bertugas di Lebanon, dilaporkan terluka setelah sebuah rudal Israel mendarat hanya beberapa meter dari posisinya meliput.
Rekaman video yang telah diverifikasi menunjukkan detik-detik mencekam saat rudal menghantam tanah dan Sweeney segera merunduk di tengah hujan serpihan material ledakan.
Steve dan juru kameranya lolos dari maut, disebut pihak media sebagai sebuah "keajaiban".
Baca juga: Serangan Rudal Iran Guncang Qatar: Fasilitas Gas Raksasa Rusak, Tidak Ada Korban Jiwa
Pemimpin Redaksi RT, Margarita Simonyan, melalui pernyataan resminya mengungkapkan bahwa sebuah pesawat Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menembaki mobil yang membawa Steve saat mereka tengah menyeberangi sebuah jembatan di wilayah selatan Lebanon.
"Koresponden kami Steve Sweeney terluka oleh serangan Israel di Lebanon. Sebuah pesawat IDF menembaki kendaraan yang membawa Steve dan juru kameranya. Keduanya saat ini dalam keadaan sadar di rumah sakit, dan dokter sedang mendiagnosis sejauh mana kerusakan akibat serpihan misil," tulis Simonyan dikutip Deadline.
Tank IDF tembaki Pasukan PBB
Insiden yang menimpa jurnalis RT ini menambah daftar panjang kekeliruan target oleh militer Israel.
IDF akhirnya mengakui bahwa tembakan tank mereka secara keliru menghantam posisi pasukan perdamaian PBB di selatan Lebanon pada 6 Maret lalu.
Dalam pernyataan resminya kepada Reuters, IDF berdalih bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap tembakan rudal anti-tank dari kelompok Hizbullah yang melukai dua tentara Israel.
Alih-alih mengenai musuh, tiga peluru tank 120-mm M339 justru menghantam pangkalan Al-Qawzah.
"Investigasi komprehensif menentukan bahwa tembakan yang mengenai personel UNIFIL dilakukan secara keliru oleh pasukan IDF yang salah mengidentifikasi pasukan UNIFIL sebagai sumber tembakan anti-tank," bunyi pernyataan resmi IDF, dikutip Times of Israel.
Akibat insiden tersebut, tiga tentara asal Ghana yang tergabung dalam misi perdamaian mengalami luka-luka.
Pihak IDF menyatakan penyesalan mendalam dan telah menyampaikan permohonan maaf kepada pemerintah Ghana serta PBB.
Serangan terhadap posisi PBB dan awak media ini menggarisbawahi risiko besar yang dihadapi pihak non-kombatan di tengah memanasnya konflik antara Israel dan Hizbullah.
Baca tanpa iklan