Ledakan Bahrain Bikin Geger, Analisis Sebut Rudal Patriot AS Diduga Hantam Area Permukiman
Analisis baru menyebut ledakan di Bahrain kemungkinan dipicu rudal Patriot AS, bukan drone Iran semata.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Ledakan di kawasan permukiman Bahrain diduga melibatkan rudal Patriot yang dioperasikan Amerika Serikat.
- Bahrain mengakui sistem Patriot terlibat, tetapi tetap menyebut drone Iran sebagai target yang berhasil dicegat.
- Analisis Reuters menunjukkan ledakan itu kemungkinan berasal dari intersepsi Patriot yang gagal atau meledak di udara.
TRIBUNNEWS.COM – Ledakan yang mengguncang kawasan permukiman di Pulau Sitra, Bahrain, pada 9 Maret 2026 memunculkan babak baru dalam perang Iran dan respons pertahanan udara Amerika Serikat di Teluk.
Analisis terbaru yang ditelaah Reuters menyebut proyektil yang diduga terlibat dalam ledakan itu kemungkinan besar adalah rudal pencegat Patriot yang dioperasikan Amerika Serikat, bukan semata-mata serangan langsung drone Iran seperti narasi awal Bahrain dan Washington.
Reuters melaporkan, ledakan di lingkungan Mahazza, Pulau Sitra, melukai 32 warga sipil termasuk anak-anak dan merusak sejumlah rumah.
Insiden itu terjadi 10 hari setelah perang melawan Iran dimulai, ketika Bahrain dan Amerika Serikat sebelumnya sama-sama menyalahkan serangan drone Iran atas ledakan tersebut.
Namun, pemerintah Bahrain pada 21 Maret 2026 untuk pertama kalinya mengakui bahwa sistem pertahanan udara Patriot memang terlibat dalam insiden itu.
Menurut juru bicara pemerintah Bahrain, rudal tersebut berhasil mencegat drone Iran di udara dan menyelamatkan nyawa, sementara kerusakan di darat disebut bukan akibat benturan langsung rudal Patriot atau drone ke permukaan.
Di sisi lain, analisis peneliti dari Middlebury Institute of International Studies yang dikutip Reuters justru mengarah pada dugaan lebih kuat bahwa rudal Patriot itu kemungkinan diluncurkan dari baterai pertahanan udara AS di dekat Riffa, sekitar 7 kilometer dari lokasi ledakan.
Kesimpulan itu disusun berdasarkan telaah visual sumber terbuka, citra satelit komersial, geolokasi video, dan lintasan proyektil yang terekam di langit malam Bahrain.
Baca juga: Gara-gara Perang Iran, F1 Bahrain dan Arab Saudi Dibatalkan, Balapan April Dihentikan Demi Keamanan
Reuters juga menyebut dua ahli analisis target dan seorang peneliti rudal Patriot tidak menemukan alasan untuk membantah kesimpulan para peneliti tersebut.
Salah satu analis yang dikutip Reuters, Wes Bryant, mantan penasihat senior penargetan dan analis kebijakan di Pentagon, menyebut kesimpulan itu “cukup tak terbantahkan”.
Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa ledakan yang melukai puluhan warga sipil itu kemungkinan besar terkait langsung dengan intersepsi pertahanan udara, bukan hanya serangan musuh yang lolos.
Video yang diverifikasi Reuters menunjukkan puing-puing berserakan di sekitar rumah, lapisan debu tebal di jalan, serta warga yang berteriak dan korban luka di lokasi kejadian.
Analisis forensik digital juga tidak menemukan bukti jelas bahwa video lintasan proyektil tersebut merupakan rekayasa kecerdasan buatan.
Al Jazeera melaporkan, Komando Pusat AS atau CENTCOM tetap bersikeras bahwa yang “sebenarnya terjadi” adalah drone Iran menghantam lingkungan perumahan di Bahrain dan melukai 32 warga sipil, termasuk anak-anak.
Baca tanpa iklan