Kim Jong Un Resmi Sebut Korsel Musuh Utama, Tegaskan Arah Baru Korea Utara
Kim Jong-un sebut Korea Selatan musuh utama dan ancam balasan tanpa ampun jika terjadi provokasi
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, resmi menyebut Korea Selatan sebagai musuh utama dan memperingatkan konsekuensi keras atas provokasi
- Ia juga menegaskan status negaranya sebagai kekuatan nuklir serta kesiapan merespons ancaman
- Analis menilai langkah ini mencerminkan arah kebijakan yang semakin konfrontatif
TRIBUNNEWS.COM, SEOUL — Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un secara resmi menyebut Korea Selatan sebagai negara paling bermusuhan dan memperingatkan akan adanya konsekuensi tanpa ampun jika Seoul melakukan provokasi.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidatonya pada hari kedua sekaligus penutupan sesi pertama Majelis Rakyat Tertinggi (SPA) ke-15, sebagaimana dilaporkan oleh Korean Central News Agency (KCNA), Selasa (24/3/2026).
Dalam pidatonya, Kim menegaskan bahwa Korea Utara kini secara resmi menyatakan Korea Selatan sebagai musuh utama.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap langkah provokatif dari Seoul akan dibalas dengan konsekuensi “tanpa ampun”.
Dalam kesempatan tersebut, Kim mengungkapkan bahwa konstitusi Korea Utara telah direvisi guna mencerminkan kebutuhan pembangunan nasional.
Belum ada konfirmasi resmi apakah revisi tersebut secara eksplisit memasukkan definisi Korea Selatan sebagai “negara musuh”.
Baca juga: Kunjungan ke China, Presiden Korsel Minta Xi Jinping Mediasi Konflik dengan Korut
Sebelumnya, konstitusi Korea Utara masih memuat komitmen terhadap reunifikasi damai di Semenanjung Korea.
Namun, arah kebijakan berubah sejak 2024, ketika Kim memerintahkan revisi hukum untuk menetapkan Korea Selatan sebagai musuh nomor satu.
Sejak saat itu, Pyongyang semakin menunjukkan sikap keras dengan menutup peluang dialog dan kerja sama antar-Korea.
Tegaskan Status Negara Nuklir
Selain menyoroti hubungan antar-Korea, Kim juga menegaskan kembali posisi negaranya sebagai kekuatan nuklir.
Ia menuduh Amerika Serikat sebagai pihak yang melakukan intervensi dan invasi di berbagai belahan dunia, serta menekankan bahwa kekuatan militer merupakan satu-satunya jaminan bagi keamanan negara.
“Martabat, kepentingan, dan kemenangan akhir suatu negara hanya dapat dijamin oleh kekuatan yang paling dahsyat,” ujar Kim.
Ia menambahkan bahwa Korea Utara siap merespons segala bentuk pendekatan, baik konfrontasi maupun perdamaian dari pihak lawan.
Kim juga berjanji akan terus memperkuat kemampuan pencegahan nuklir defensif dan menjaga kesiapan respons cepat terhadap ancaman strategis.
Baca tanpa iklan