Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Pengamat Nilai AS Gegabah Perang Lawan Iran, Terlena dengan Kesuksesan di Venezuela

Pengamat intelijen dari UI Stanislaus Riyanta menilai Amerika Serikat (AS) dan Israel terlalu gegabah melakukan perang dengan Iran.

Tribun X Baca tanpa iklan

Ringkasan Berita:
  • Amerika Serikat (AS) dan Israel dinilai terlalu gegabah melakukan perang dengan Iran.
  • AS terlena dengan kesuksesan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam waktu singkat.
  • Padahal, Iran mempunyai karakteristik yang berbeda dengan Venezuela

TRIBUNNEWS.COM - Pengamat intelijen dan keamanan dari Universitas Indonesia (UI) Stanislaus Riyanta menilai Amerika Serikat (AS) dan Israel terlalu gegabah melakukan perang dengan Iran.

Menurutnya, AS terlena dengan kesuksesan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam waktu singkat.

"Saya kira Amerika Serikat agak gegabah, ceroboh ketika merencanakan perang dengan Iran ini, mereka terlena dengan serangan ke Venezuela yang satu hari selesai," ucap Stanislaus dalam tayangan di Kompas TV, Senin (24/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa Iran mempunyai karakteristik yang berbeda dengan Venezuela

Ketika AS dan Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 lalu, Iran bukannya melemah, justru malah makin kuat untuk membalas serangan tersebut.

Menurutnya, banyak pakar yang menyatakan jika senjata yang dimiliki AS hanya cukup untuk berperang selama empat minggu.

Rekomendasi Untuk Anda

Oleh sebab itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa perang dengan Iran akan berakhir dalam waktu empat minggu.

Namun, memasuki pekan ketiga belum ada tanda-tanda kekalahan dari Iran sehingga Amerika menggunakan cara lain.

Stanislaus menyebut, cara yang dipakai oleh AS adalah PUS Prop (Perang Urat Syaraf dan Propaganda).

"Ini sudah dilakukan, tetapi PUS Prop Iran lebih menang karena dia menguasai Selat Hormuz yang itu menjadi salah satu titik pusat jalur transportasi perdagangan dunia."

"Jadi PUS Prop itu perlawanan tidak hanya dengan senjata, tetapi dengan faktor lain, ekonomi misalnya dan Iran memenangkan ini," tuturnya.

Baca juga: Presiden AS Klaim Negosiasi dengan Iran, Pakar: Trump Sedang Terjepit

Alhasil, Trump memakai cara-cara yang lebih persuasif dalam perang ini, yaitu mengklaim adanya negosiasi meskipun hal tersebut dibantah oleh Iran.

Namun, Stanislaus menilai bahwa perubahan taktik ini menunjukkan tanda-tanda perang akan segera berakhir.

"Berganti-ganti model dengan dinamika yang ada menunjukkan bahwa sebenarnya ini adalah cara untuk menghentikan perang tanpa kehilangan muka," ungkapnya.

Klaim Trump

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas