Hormuz Terkunci! Manuver Prabowo ke Jepang-Korsel Pasca-Perang Iran Terungkap: Misi Darurat Energi!
Dua tanker Pertamina lepas dari Iran! Dari Jakarta, Prabowo ke Jepang-Korsel amankan energi Indonesia pasca-Perang Iran demi rakyat. Simak di sini!
Penulis:
Abdul Qodir
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Respons Cepat: Presiden Prabowo Subianto bertolak dari Jakarta guna melakukan lobi tingkat tinggi demi mengamankan pasokan energi Indonesia.
- Kabar Terkini: Dua kapal tanker Pertamina yang sempat tertahan di Selat Hormuz dilaporkan telah mendapatkan izin keluar dari otoritas Iran.
- Kepentingan Rakyat: Presiden menegaskan kunjungan ini adalah misi vital untuk menjaga lapangan kerja di tengah gejolak konflik Timur Tengah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Dunia sedang berada di ambang krisis energi hebat pasca-pecahnya perang antara koalisi Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026.
Di tengah ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah yang meluas dan lumpuhnya jalur Selat Hormuz, Presiden Prabowo Subianto melakukan manuver diplomasi kilat dengan bertolak dari Jakarta menuju Jepang dan Republik Korea (Korsel) pada Minggu (29/3/2026).
Langkah ini terungkap sebagai "Misi Darurat Energi" bagi Indonesia.
Kehadiran Kepala Negara di Tokyo dan Seoul bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan upaya strategis untuk memastikan ketahanan ekonomi nasional di saat 20 persen pasokan energi dunia di Timur Tengah terganggu akibat blokade militer di Teluk Persia.
Angin Segar: Dua Tanker Pertamina Dilepaskan Iran
Di tengah ketegangan yang memuncak, Jakarta menerima kabar baik terkait keamanan aset energinya.
Dua kapal tanker milik Pertamina yang sempat tertahan selama beberapa pekan di dalam area Selat Hormuz imbas penutupan jalur oleh Iran, kini dilaporkan telah mendapatkan izin keluar.
Kabar terbaru menyebutkan kedua kapal pengangkut minyak tersebut kini bersiap meninggalkan zona konflik menuju Indonesia.
Keberhasilan ini dinilai sebagai buah dari diplomasi tenang yang dijalankan pemerintah.
Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah strategis Presiden Prabowo. Beliau menegaskan bahwa kehadiran langsung Kepala Negara diperlukan untuk kesepakatan yang sifatnya menentukan.
"Saya kalau enggak lobi, tentunya menteri-menteri yang kerja, namun di ujungnya saya harus datang. Ada hal-hal yang penting harus deal langsung," tegas Prabowo sebelum lepas landas dari Pangkalan TNI Angkatan Udara (AU) Halim Perdanakusuma, Jakarta, hari ini.
Baca juga: Serangan AS-Israel Picu Iran Pertimbangkan Keluar dari NPT dan Kembangkan Senjata Nuklir
Antara Beijing dan Tokyo: Diplomasi Penyeimbang Jakarta
Manuver Indonesia kali ini sangat strategis dalam menanggapi dinamika di Timur Tengah.
Sebelum menemui Kaisar Naruhito dan Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi—dua sekutu utama AS di Asia—Prabowo terlebih dahulu menerima Menteri Keamanan Negara atau Minister of State Security (MSS) China, Chen Yi Xin, di Jakarta pada Jumat (27/3/2026).
Pertemuan dengan intelijen Tiongkok tersebut menjadi sinyal bahwa Indonesia tetap berdiri di posisi netral-aktif dengan posisi tawar yang kuat.
"Dalam setiap hubungan memang harus ada posisi tawar, harus dari posisi kuat. Nah, itu yang sedang kita kerjakan sekarang," ujar Presiden.
Misi "Menjaga Rakyat" di Jepang dan Korsel
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang mendampingi Presiden, mengisyaratkan adanya negosiasi terkait diversifikasi energi sebagai langkah antisipatif jangka panjang.
Baca tanpa iklan