Perang AS-Iran Picu Krisis Energi, Indonesia Didorong Masuk Liga Utama EV
Dalam situasi tersebut, Indonesia justru berada pada posisi strategis karena memiliki cadangan mineral kritis
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom
Perang AS-Iran Picu Krisis Energi, Indonesia Didorong Masuk Liga Utama EV
Ringkasan Berita:
- Indonesia memiliki cadangan mineral kritis seperti nikel, tembaga, bauksit, dan timah yang menjadi fondasi industri kendaraan listrik global.
- Momentum geopolitik dan lonjakan harga energi membuka peluang besar bagi Indonesia untuk naik kelas dari eksportir bahan mentah menjadi pusat ekosistem EV terintegrasi.
- Elektrifikasi transportasi juga memperkuat ketahanan energi nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di tengah memanasnya konflik geopolitik global, khususnya perang antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong lonjakan harga minyak dan gas dunia, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk naik kelas menjadi pemain utama industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah telah mengganggu pasokan energi dunia, termasuk minyak dan liquefied natural gas (LNG), yang selama ini menjadi tulang punggung energi global.
Baca juga: Koordinasi Intensif Pemerintah Buahkan Hasil, Iran Respons Positif Soal Kapal Indonesia
Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan energi dunia telah mendorong harga energi melonjak signifikan dan meningkatkan risiko krisis energi di berbagai negara.
Dalam situasi tersebut, Indonesia justru berada pada posisi strategis karena memiliki cadangan mineral kritis yang menjadi fondasi industri kendaraan listrik, seperti nikel, tembaga, bauksit, dan timah.
Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan dinamika geopolitik global membuka peluang bagi Indonesia untuk memainkan peran penting dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia.
“Di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan persaingan global atas mineral kritis, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis karena cadangan nikelnya, tembaga, bauksit, dan timah menjadi fondasi utama industri kendaraan listrik dunia,” ujar Fabby dalam keterangannya, Minggu (29/3/2026).
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per Desember 2024, Indonesia memiliki sumber daya nikel sebesar 6,74 miliar ton dengan cadangan 3,13 miliar ton. Sementara itu, sumber daya tembaga mencapai 18,336 miliar ton dengan cadangan 2,86 miliar ton.
Adapun sumber daya bauksit tercatat sebesar 7,79 miliar ton bijih mentah, 3,93 miliar ton bauksit tercuci, serta 1,32 miliar ton alumina. Sementara sumber daya bijih timah mencapai 8,27 miliar meter kubik dengan cadangan 6,43 miliar meter kubik.
Fabby menilai, di tengah fragmentasi rantai pasok global dan meningkatnya kebutuhan mineral kritis, Indonesia berpeluang besar untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain utama dalam industri EV terintegrasi.
Momentum ini membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya berhenti pada produk antara seperti nickel pig iron atau prekursor, tetapi juga masuk ke produksi sel baterai hingga manufaktur kendaraan listrik secara terintegrasi.
“Penguatan industri EV merupakan momentum emas bagi Indonesia untuk melompat ke rantai nilai global (global value chain) yang lebih tinggi,” tambahnya.
Lebih jauh, pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Lonjakan harga minyak akibat konflik global menunjukkan tingginya kerentanan negara terhadap energi fosil impor. Dalam konteks ini, elektrifikasi transportasi dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang.
Fabby menyebutkan, transisi satu juta kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik berpotensi mengurangi kebutuhan minyak mentah Indonesia hingga 13,2 juta barel per tahun.
Baca tanpa iklan