Pakistan Siap Jadi Mediator, Islah Bahrawi: Tidak Banyak Berpengaruh terhadap Iran
Direktur JMI Islah Bahrawi mengomentari upaya diplomasi di Pakistan untuk meredam perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel.
Penulis:
Muhamad Deni Setiawan
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Pakistan mengatakan pada Minggu (29/3/2026) bahwa mereka sedang bersiap menjadi tuan rumah “perundingan yang bermakna” guna mengakhiri konflik AS-Iran.
- Direktur Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi menilai, posisi Pakistan sebenarnya tidak banyak berpengaruh terhadap Iran.
- Apalagi, Iran mengetahui bahwa Pakistan memiliki hubungan dekat dengan AS.
TRIBUNNEWS.COM - Direktur Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi mengomentari upaya diplomasi di Pakistan untuk meredam perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel.
Islah menilai, posisi Pakistan sebenarnya tidak banyak berpengaruh terhadap Iran. Apalagi, Iran mengetahui bahwa Pakistan memiliki hubungan dekat dengan AS.
"Saya kira kalau kita melihat bagaimana geopolitik itu bekerja, Pakistan juga tidak banyak berpengaruh sebenarnya terhadap Iran," ucapnya dalam tayangan di Kompas TV, Senin (30/3/2026).
"Apalagi, Iran pastinya juga tahu Pakistan punya hubungan dekat dengan Amerika terkait dengan koneksi militer, relasi hubungan mereka ketika perang terjadi antara Pakistan dengan India dan bagaimana Pakistan dengan Afghanistan," sambungnya.
Baca juga: Pakistan Siap Fasilitasi Perundingan AS-Iran demi Akhiri Konflik Timur Tengah yang Kian Memanas
Ia menyatakan bahwa kedekatan Pakistan dengan Amerika Serikat semestinya diketahui oleh Iran.
"Artinya Pakistan sendiri sebenarnya bagian dari alat pemukulnya Amerika di Asia Selatan dan Iran pasti tahu soal itu."
"Kalau secara ekonomi misalnya Pakistan dan Iran punya hubungan khusus, saya kira tidak akan bisa meluluhkan hatinya Iran untuk bernegosiasi," tuturnya.
Menurutnya, AS memilih Pakistan sebagai mediator karena negara tersebut mempunyai senjata nuklir.
"Karena bagaimanapun secara geopolitik dan juga secara militer, Pakistan punya hubungan khusus. Memang dipilihnya Pakistan ini oleh Amerika karena Pakistan juga punya senjata nuklir," paparnya.
Ia pun menegaskan bahwa persoalan di Timur Tengah ini muncul karena Iran dikhianati oleh AS. Awalnya, ketika sedang bernegosiasi, Iran tiba-tiba diserang oleh Negeri Paman Sam.
"Nah, ini yang mungkin tidak akan membuat Iran terlena dengan kata-kata negosiasi," ungkap Islah.
Upaya Negosiasi
Berdasarkan laporan Reuters, Pakistan mengatakan pada Minggu (29/3/2026) bahwa mereka sedang bersiap menjadi tuan rumah “perundingan yang bermakna” guna mengakhiri konflik AS-Iran.
Hal ini disampaikan meskipun Teheran sebelumnya menuduh Washington tengah mempersiapkan serangan darat sambil tetap membuka peluang negosiasi.
Berbicara setelah pertemuan para menteri luar negeri regional, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan pihaknya telah membahas berbagai cara untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut secara dini dan permanen, termasuk kemungkinan pembicaraan antara AS dan Iran di Islamabad.
“Pakistan akan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan yang bermakna antara kedua pihak dalam beberapa hari mendatang, guna mencapai penyelesaian konflik secara komprehensif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Baca juga: Iran Restui 20 Kapal Pakistan Lewat Selat Hormuz, Sinyal Damai atau Strategi Perang?
Baca tanpa iklan