Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Pidato Trump Soal Perang Iran Buat Bingung Senator AS: Klaim Menang, tapi Tetap Perang?

Senator Demokrat AS, Chris Van Hollen bingung dengan pidato Presiden Donald Trump yang mengklaim kemenangan atas Iran.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Nuryanti
Ringkasan Berita:
  • Pidato Presiden AS, Donald Trump membuat seorang Senator Demokrat, Chris Van Hollen bingung dengan logika sang presiden.
  • Van Hollen mempertanyakan pernyataan Trump yang menyebut AS telah memenangkan perang atas Iran, namun tetap melanjutkannya.
  • Tak hanya Van Hollen, Pemimpin Demokrat Senat, Chuck Schumer, menggambarkan pidato tersebut sebagai salah satu pidato masa perang yang "paling terputus-putus dan tidak koheren".

TRIBUNNEWS.COM - Pidato Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump soal perang Iran membuat bingung para senator di dalam negeri.

Dalam pidatonya, Trump dengan percaya diri mengklaim bahwa militer AS hampir mencapai kemenangan total dan menyebut musuh-musuh mereka sedang di ambang kehancuran.

Namun, di saat yang sama, ia menyatakan bahwa operasi militer masih akan berlanjut hingga beberapa minggu ke depan.

Pernyataan ini yang membuat tanda tanya besar di kalangan para senator AS.

Senator Demokrat, Chris Van Hollen secara terbuka mempertanyakan logika sang presiden.

"Kalau memang sudah menang, kenapa kita masih berperang? Apa sebenarnya langkah selanjutnya?" cetusnya, mengutip WANA.

Pemimpin Demokrat Senat, Chuck Schumer, menggambarkan pidato tersebut sebagai salah satu pidato masa perang yang "paling terputus-putus dan tidak koheren".

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menekankan bahwa Trump gagal menetapkan tujuan yang jelas sambil membebankan biaya besar kepada rakyat Amerika.

Kemudian Pemimpin Minoritas Kongres AS, Hakeem Jeffries menyerukan diakhirinya apa yang ia sebut sebagai "perang yang gegabah".

"Rakyat Amerika lelah dengan kekacauan dan biaya yang ditimbulkannya," tegas Jeffries.

Kritik paling tajam datang menyusul ancaman Trump yang berniat menargetkan infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik di Iran.

Baca juga: Sebelum Mengakhiri Perang, Trump Bakal Kembalikan Iran ke Zaman Batu Selama 3 Pekan

Sejumlah pengamat hukum internasional dan jurnalis senior menilai langkah tersebut bisa dikategorikan sebagai hukuman kolektif yang melanggar hukum perang.

"Ini bukan lagi soal target militer. Menghancurkan pembangkit listrik adalah kejahatan perang," tulis analis Seth Hettena.

Di tingkat internasional, pidato tersebut juga menimbulkan pertanyaan serius.

AFP mengutip Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, melaporkan bahwa tujuan awal perang telah "tercapai", sehingga tidak jelas keuntungan apa lagi yang akan diperoleh dari kelanjutan pertempuran.

Reuters juga mencatat bahwa pemerintahan Trump sejak awal kesulitan untuk membenarkan perang tersebut, sebuah masalah yang masih berlanjut hingga saat ini.

Guncang Harga Minyak

Pidato Trump ini tak hanya membuat para politikus dunia bereaksi, tetapi juga memicu 'gempa' di pasar energi global.

Meski Trump mengklaim kemenangan militer sudah di depan mata, pasar justru bereaksi sebaliknya dengan lonjakan harga minyak mentah yang signifikan.

Harga minyak Brent langsung meroket ke level $106 per barel, sementara di Amerika sendiri, harga BBM mencetak rekor tertinggi sejak 2022 dengan menembus angka $4 per galon.

Mengutip pemberitaan CNN, faktor utama yang membuat dunia was-was adalah nasib Selat Hormuz.

Jalur perdagangan minyak paling vital di dunia itu masih lumpuh total akibat blokade Iran.

Baca juga: Donald Trump Klaim Perang Selesai dalam 2 Minggu, Iran Justru Luncurkan Rudal ke Israel

Menariknya, Trump memberi sinyal bahwa AS tidak akan lagi menjadi "satpam" gratis bagi jalur tersebut.

Ia menegaskan bahwa negara-negara pengguna seperti China dan sekutu Eropa harus mulai menjaga kapal-kapal tanker mereka sendiri.

Sikap apatis ini menambah ketidakpastian pasokan energi global.

Situasi Politik Memburuk

Setelah pidato Trump selesai, kepercayaan publik terhadap sang presiden mendekati titik terendah dalam sejarah selama dua periode jabatannya.

Sebuah jajak pendapat CNN/SSRS terbaru pada hari Rabu sebelum pidato tersebut menunjukkan peringkat persetujuannya hanya 35 persen.

Hanya 34 persen warga Amerika yang menyetujui keputusan untuk mengambil tindakan militer di Iran.

Sekitar 68 persen menentang pengiriman pasukan darat ke Iran — sebuah langkah yang belum diambil Trump tetapi tidak dikesampingkan pada hari Rabu.

Perang tersebut juga menyebabkan dampak ekonomi yang langsung dan menyakitkan yang tercermin dalam anjloknya kepercayaan publik.

Tingkat persetujuan Trump terhadap perekonomian dalam jajak pendapat terbaru hanya 31 persen.

Dan sekitar dua pertiga warga Amerika mengatakan bahwa kebijakannya berkontribusi pada memburuknya kondisi.

Baca juga: 10 Poin yang Disampaikan Donald Trump dalam Pidato Terbarunya tentang Perang Iran

Angka-angka ini sangat mengkhawatirkan bagi seorang presiden dan Partai Republik yang sudah menghadapi pemilihan paruh waktu yang sulit hanya dalam tujuh bulan.

Presiden yang menjabat untuk periode kedua dan mengalami penurunan popularitas serta kepercayaan pada kepemimpinannya jarang pulih.

Trump sekarang harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa perang yang tidak banyak dijelaskannya dapat menghabiskan masa kepresidenannya dan menodai warisannya.

Skeptisisme publik terhadap rekam jejak ekonomi Trump juga menjadi beban baginya.

Bahkan sebelum pertempuran dimulai, mayoritas pemilih telah menolak pujiannya terhadap era keemasan baru karena mereka berjuang melawan tingginya harga perumahan dan makanan.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas