Warga AS Muak Perang! Desak Operasi Militer di Iran Segera Dihentikan
Warga AS muak perang! desak konflik Iran dihentikan. Biaya tinggi dan krisis ekonomi jadi alasan, meski ancaman nuklir tetap jadi kekhawatiran.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Mayoritas warga Amerika Serikat ingin perang dengan Iran segera diakhiri. Survei menunjukkan 59–66 persen menolak perang, sementara 62–76 persen menentang pengiriman pasukan karena risiko tinggi bagi militer.
- Faktor ekonomi jadi pemicu utama. Lonjakan harga BBM dan biaya perang membuat warga lebih fokus pada stabilitas ekonomi.
- Meski menolak perang, warga tetap khawatir ancaman nuklir Iran. Dilema muncul antara menghentikan konflik dan menjaga keamanan global.
TRIBUNNEWS.COM - Mayoritas warga Amerika Serikat menginginkan konflik dengan Iran segera diakhiri, seiring meningkatnya kelelahan publik terhadap perang yang memasuki bulan kedua.
Survei yang dirilis Reuters dan Ipsos mencatat sekitar 66 persen warga Amerika mendukung percepatan akhir perang, bahkan jika tujuan militer belum sepenuhnya tercapai.
Sementara itu, survei Economist/YouGov menunjukkan 59 persen responden menentang perang secara keseluruhan, dengan hanya 28 persen yang menyatakan dukungan.
Hasil serupa juga terlihat dalam jajak pendapat AP-NORC, di mana 60 persen responden menilai tindakan militer Amerika Serikat telah melampaui batas.
Data ini mencerminkan meningkatnya tekanan publik terhadap pemerintah untuk segera mencari jalan keluar dari konflik.
Penentangan publik paling kuat terlihat pada rencana pengiriman pasukan darat ke Iran.
Dalam ketiga survei tersebut, antara 62 hingga 76 persen responden menyatakan tidak setuju dengan langkah tersebut.
Bahkan, dalam survei Ipsos, sebanyak 86 persen warga mengaku khawatir terhadap risiko yang dapat mengancam keselamatan personel militer jika operasi darat dilakukan.
Kekhawatiran ini mempertegas bahwa masyarakat Amerika tidak menginginkan keterlibatan militer yang lebih dalam.
Di tengah situasi tersebut, publik juga menunjukkan skeptisisme terhadap proses diplomasi.
Sekitar 46 persen responden meragukan bahwa negosiasi damai benar-benar berlangsung, sementara 59 persen menilai penyelesaian konflik dalam waktu dekat sulit tercapai.
Hanya sekitar 30 persen responden yang menyatakan puas terhadap penanganan konflik oleh pemerintah, menunjukkan rendahnya tingkat kepercayaan terhadap arah kebijakan saat ini.
Baca juga: Trump Seperti Cuci Tangan Soal Selat Hormuz: Akan Terbuka Sendiri setelah Perang Selesai
Faktor Ekonomi Jadi Pendorong Utama
Kelelahan publik di Amerika Serikat terhadap konflik dengan Iran semakin menguat, dengan faktor ekonomi disebut sebagai pendorong utama meningkatnya penolakan terhadap perang.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan bahwa kekhawatiran masyarakat tidak lagi semata pada aspek keamanan, melainkan lebih dominan pada dampak ekonomi yang dirasakan langsung.
Dalam jajak pendapat AP-NORC, sekitar 67 persen responden menilai pencegahan kenaikan harga bahan bakar sebagai prioritas utama.
Baca tanpa iklan