3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pakar: Mandat dari PBB Harus Dikaji Kembali
Pakar menyinggung pentingnya melakukan evaluasi setelah tiga prajurit TNI gugur akibat terkena serangan misil dari Israel di Lebanon.
Penulis:
Muhamad Deni Setiawan
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Pemerintah diminta kembali mengkaji mandat dari PBB setelah tiga prajurit TNI gugur akibat terkena serangan misil dari Israel di Lebanon.
- Ia menyebut, mandat dari PBB untuk pasukan di UNIFIL adalah melakukan monitoring gencatan senjata dan melindungi warga sipil.
- Menurutnya, ada batas-batasan konkret yang harus dipatuhi pasukan penjaga perdamaian, yaitu dilarang bersikap ofensif dan tidak boleh terlibat dalam konflik antarpihak.
TRIBUNNEWS.COM - Analis politik dan militer Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting menyinggung pentingnya melakukan evaluasi setelah tiga prajurit TNI gugur akibat terkena serangan misil Israel di Lebanon.
Selamat menegaskan, pemerintah harus mengkaji kembali mandat dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon (UNIFIL).
"Tentu saja kita harus mengkaji kembali mandat kita, mandat TNI kita di dalam pasukan UNIFIL PBB ini. Mandat utamanya apa sih sebenarnya?" ucap Selamat Ginting dalam program On Focus yang tayang di YouTube Tribunnews, Kamis (2/4/2026).
Ia menyebut, mandat dari PBB untuk pasukan di UNIFIL adalah melakukan monitoring gencatan senjata dan melindungi warga sipil.
"Ya monitoring untuk gencatan senjata, untuk melakukan patroli wilayah, mendukung angkatan bersenjata yang ada di sana Lebanon untuk melindungi warga sipil yang terbatas," ujarnya.
Lebih lanjut, Selamat menjelaskan adanya batas-batasan konkret yang harus dipatuhi pasukan penjaga perdamaian, yaitu dilarang bersikap ofensif dan tidak boleh terlibat dalam konflik antarpihak.
"Dan ini kembali lagi bergantung pada mandat yang diberikan Dewan Keamanan PBB pada pasukan perdamaian kita," terangnya.
Ia juga meminta agar pemerintah melakukan perhitungan matang di tengah munculnya desakan untuk menarik prajurit TNI dari Lebanon.
Menurutnya, pemerintah tak bisa begitu saja menarik pasukannya dari sana.
"Iya, tentu kita tidak akan otomatis melakukan hal itu, ya. Tentu harus menghitung keuntungan kerugiannya," ujar Selamat Ginting.
Selamat menjelaskan bahwa penarikan pasukan memiliki keuntungan, yaitu untuk menghindari korban lanjutan dalam misi perdamaian UNIFIL.
Baca juga: Muncul Desakan agar Prajurit TNI Ditarik dari Lebanon, Pakar: Harus Hitung Untung Ruginya
"Penarikan pasukan keuntungannya tentu saja untuk menghindari korban lanjutan. Jangan sampai ada pasukan kita yang gugur lagi di sana," tuturnya.
Sementara itu, jika tiba-tiba menarik pasukannya dari Lebanon, hal itu juga bisa menimbulkan kerugian bagi Indonesia berupa penurunan kredibilitas di kancah internasional.
"Kalau kita tiba-tiba menarik (prajurit TNI dari Lebanon), ini justru akan menurunkan kredibilitas Indonesia dalam misi global sekaligus mengurangi posisi tawar diplomatik Indonesia di kancah dunia internasional," paparnya.
Menurut Selamat Ginting, langkah rasional yang perlu ditempuh Indonesia adalah melakukan evaluasi, bukan menarik pasukan secara penuh kecuali situasi di Lebanon tiba-tiba berubah menjadi perang terbuka secara penuh.
Baca tanpa iklan