Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Markas Besar Komando Militer Iran: Trump Bohong Soal Penyelamatan Pilot AS, 2 Black Hawk Hancur

Para ahli yang hadir di lokasi kejadian menyatakan dua pesawat militer C-130 dan dua helikopter Black Hawk milik Angkatan Darat AS hancur

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Markas Besar Komando Militer Iran: Trump Bohong Soal Penyelamatan Pilot AS, 2 Black Hawk Hancur
Tribunnews.com/Tangkap Layar/Khaberni
SIMPANG SIUR - Ilustrasi kursi pilot jet tempur yang melontarkan diri saat keadaan darurat. Kabar mengenai jatuhnya jet tempur F-15 E Amerika oleh sistem pertahanan Iran memicu spekulasi soal nasib sang pilot. Presiden AS, Donald Trump mengklaim kalau dua pilot, termasuk yang terakhir ditemukan, berhasil diselamatkan. Pernyataan ini dibantah Markas Besar Komando Militer Iran. 

"Sumber lain menunjukkan bahwa ia mungkin telah ditangkap oleh pasukan Iran," tulis laporan itu.

Saluran televisi lokal provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad menyiarkan pernyataan dari Komando Pasukan Keamanan Dalam Negeri Iran yang menyerukan kepada warga dan penduduk daerah pegunungan dan desa-desa sekitarnya untuk bekerja sama sepenuhnya dalam melacak dan menangkap pilot jet tempur AS yang jatuh tersebut.

Hadiah finansial diumumkan bagi siapa pun yang menangkap tentara atau pilot Amerika di wilayah Iran.

AS Minta Gencatan Senjata 48 Jam

Indikasi lain dari situasi yang dihadapi pasukan AS terkait ditembak jatuhnya pesawat mereka adalah permintaan gencatan senjata selama 48 jam.

Kantor Berita Fars Iran, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kalau Amerika Serikat, melalui negara sahabat, mengusulkan gencatan senjata 48 jam pada Kamis.

Dalih dari permintaan gencatan tersebut adalah "Dalam upaya untuk menghentikan peningkatan ketegangan di kawasan tersebut".

Menurut sumber tersebut, permintaan Amerika itu muncul setelah "krisis di kawasan tersebut meningkat dan masalah serius muncul bagi pasukan militer AS sebagai akibat dari kesalahan perhitungan kemampuan militer Republik Islam Iran."

Rekomendasi Untuk Anda

Sumber tersebut mengindikasikan kalau tanggapan Iran terhadap permintaan ini “bukan dalam bentuk tertulis, tetapi melalui respons di lapangan dan berlanjutnya serangan besar-besaran,”.

Sumber tersebut menekankan kalau upaya diplomatik Amerika untuk menghentikan gencatan senjata telah meningkat, terutama setelah penargetan markas besar pasukan militer Amerika di Pulau Bubiyan, Kuwait.

Belakangan, sejumlah pakar menilai permintaan gencatan senjata ini adalah satu di antara taktik AS untuk mengulur waktu demi melakukan operasi penyelamatan terhadap Pilot F-15E mereka yang melontarkan diri dari pesawat di wilayah Iran saat ditembak jatuh.

Pengungkapan ini muncul pada saat perang AS-Israel di Iran berlanjut selama tiga puluh empat hari berturut-turut, dengan terus berlanjutnya baku tembak rudal dan serangan pesawat tak berawak.

Laporan-laporan menyebutkan adanya upaya mediasi yang dipimpin oleh Pakistan, Turki, dan Mesir untuk mencapai gencatan senjata, tetapi upaya tersebut menemui "jalan buntu," menurut Wall Street Journal.

Iran bersikeras pada syarat-syaratnya untuk mengakhiri perang, yang meliputi penghentian permusuhan sepenuhnya dan jaminan terhadap terulangnya permusuhan.

Hal ini bertepatan dengan peningkatan serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut.

 

(oln/khbrn/*)

 

 
 

 

 
 

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas