Analis: Terlepas dari Propaganda Penyelamatan Awak F-15, Iran Terbukti Masih Mampu Melawan Balik
Analis menilai insiden jatuhnya F-15E menunjukkan Iran masih mampu melawan dan memberi kerugian bagi AS, meski berada di bawah tekanan besar.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Analis menilai insiden jatuhnya F-15E menunjukkan Iran masih mampu melawan dan memberi kerugian bagi AS, meski berada di bawah tekanan besar.
- Operasi penyelamatan dinilai mahal dan berisiko tinggi, dengan kerugian diperkirakan ratusan juta dolar AS.
- Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dalam konflik asimetris, satu keberhasilan kecil dapat dimanfaatkan sebagai kemenangan propaganda oleh pihak yang lebih lemah.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim penyelamatan anggota kru kedua dari pesawat tempur F-15 yang jatuh sebagai sebuah kemenangan.
Di sisi lain, drama penyelamatan selama 48 jam itu menjadi pengingat bahwa Iran masih mampu melawan balik dan menimbulkan kerugian bagi AS, menurut analis Dan Sabbagh dari The Guardian.
Menurut Sabbagh, insiden tersebut seharusnya menjadi peringatan bagi Gedung Putih yang masih mempertimbangkan kemungkinan melancarkan operasi darat di Iran untuk merebut sebuah pulau di Teluk Persia, terutama jika ada ambisi serius untuk mengekstraksi uranium yang sangat diperkaya dari bawah tanah.
Pengeboman AS-Israel terhadap Iran sangat condong kepada pihak penyerang, sehingga satu insiden penembakan jatuh pesawat, yang terjadi lima minggu setelah perang dimulai, langsung menjadi masalah signifikan bagi AS karena peristiwa seperti itu sangat jarang terjadi.
Terakhir kali pesawat tempur AS ditembak jatuh oleh pasukan musuh terjadi pada tahun 2003, selama perang Irak.
Meskipun belum sepenuhnya jelas bagaimana F-15E ditembak jatuh, hal itu bisa terjadi menjadi pengingat bahwa superioritas udara AS dan Israel tidak sepenuhnya absolut, bahkan ketika mereka melancarkan sekitar 300 hingga 500 serangan udara per hari ke Iran.
Satu unit F-15E Strike Eagle bernilai sekitar 31 juta dolar AS (sekitar Rp526,6 miliar).
Namun, operasi penyelamatan, yang jauh lebih berisiko dibandingkan misi tempur biasa, justru menjadi titik munculnya kesulitan.
Keputusan menggunakan landasan udara terbengkalai di selatan Isfahan sebagai lokasi operasi garis depan berujung masalah ketika dua pesawat angkut C-130 Hercules, kemungkinan varian pencarian dan penyelamatan yang dimodifikasi, terjebak di darat.
Baca juga: Fakta-Fakta Penembakan Pesawat Tempur AS F-15E, Trump Sebut Operasi Paling Berani dalam Sejarah AS
Pesawat-pesawat tersebut kemudian dihancurkan oleh AS sendiri untuk mencegahnya jatuh ke tangan Iran, menurut sumber-sumber AS.
Pesawat angkut tambahan harus didatangkan untuk menyelesaikan evakuasi kru kedua yang terluka.
Setiap Hercules yang dimodifikasi diperkirakan bernilai hampir 115 juta dolar AS (Rp1,953 triliun).
Helikopter HH-60 Pave Hawk yang terlibat dalam operasi juga mengalami kerusakan akibat tembakan pada Jumat (3/4/2026).
Hal ini membuat total kerugian diperkirakan melebihi 250 juta dolar AS (sekitar Rp4,246 triliun), sebagian besar berasal dari upaya penyelamatan tersebut.
Dalam istilah militer, satu insiden seperti ini tidak terlalu signifikan bagi AS.
Baca tanpa iklan