5 Penyebab Perundingan Iran dan AS Berakhir Gagal di Pakistan
Iran memasuki ruangan dengan waspada. AS datang dengan tuntutan tegas. Jarak antara keduanya semakin lebar.
Penulis:
Hasanudin Aco
Mantan negosiator Timur Tengah Amerika, Aaron David Miller, mengatakan kepada CNN bahwa Iran "memegang lebih banyak kartu daripada Amerika" setelah 21 jam pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan.
"Mereka jelas tidak terburu-buru untuk membuat konsesi," kata Miller kepada CNN, yang menunjukkan bahwa Iran tampaknya beroperasi dengan jangka waktu yang lebih lambat daripada AS.
2. Suasana tidak kondusif dan ancaman Trump
Perundingan perdamaian membutuhkan kepercayaan. Atau setidaknya ketenangan atau rasa tenang. Saat para negosiator dari Iran dan AS berkumpul di Islamabad, tidak ada dua faktor itu.
Presiden AS Donald Trump berulang kali mengeluarkan ancaman terhadap Iran dan bahkan mengatakan "seluruh peradaban akan mati malam ini " tidak meredakan ancamannya bahkan beberapa jam sebelum pembicaraan dimulai.
Saat para pejabat Iran mendarat di Pakistan, Trump memperingatkan bahwa ia akan memperbarui dan mengintensifkan serangan AS jika kesepakatan perdamaian tidak tercapai.
Suasana permusuhan tersebut membentuk jalannya perundingan. Iran melihatnya sebagai tekanan, bukan diplomasi.
Para analis menunjukkan bahwa gencatan senjata itu sendiri terjadi setelah ancaman maksimalis dari Trump. Alih-alih membangun kepercayaan, hal itu justru memperkeras posisi Teheran.
Iran memasuki ruangan dengan waspada. AS datang dengan tuntutan tegas. Membuat jarak keduanya makin lebar.
3. Israel ikut menghambat negosiasi?
Bahkan ketika pembicaraan Iran-AS sedang berlangsung di Pakistan, Israel terus melakukan serangan di Lebanon, wilayah yang dikuasai oleh Hizbullah, kelompok yang selama ini didukung Iran.
Iran menginginkan serangan Israel terhadap Lebanon dihentikan sebagai prasyarat untuk perundingan perdamaian.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata bilateral antara AS dan Iran tidak berlaku untuk Iran. Serangan Israel terhadap Lebanon terus berlanjut.
Menteri Pertahanan Pakistan Khwaja Asif memprovokasi Israel dengan sebuah cuitan , yang kemudian dihapusnya, menjelang perundingan.
Asif menuduh Israel melakukan "genosida" di Lebanon.
Unggahannya yang menyerukan "pemusnahan Israel" menuai reaksi marah dari kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Sementara itu, duta besar Israel untuk India mengatakan bahwa Pakistan bukanlah mitra yang kredibel untuk perundingan perdamaian .
Baca tanpa iklan