Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Penghematan BBM, Thailand Wacanakan SPBU Wajib Tutup setelah Jam 10 Malam

PM Thailand menyampaikan bahwa otoritas terkait kemungkinan akan memerintahkan SPBU untuk tutup antara pukul 22.00 hingga 05.00 pagi.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Bobby W
Editor: Suci BangunDS
zoom-in Penghematan BBM, Thailand Wacanakan SPBU Wajib Tutup setelah Jam 10 Malam
CH7HD NEWS
ANTREAN SPBU THAILAND - Tangkap Layar CH7HD News Thailand yang memerlihatkan antrean warga Thailand di sejumlah SPBU pada Selasa malam (3/3/2026). Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul pada Senin (20/4/2026) menyampaikan bahwa otoritas terkait kemungkinan akan memerintahkan SPBU untuk tutup antara pukul 22.00 hingga 05.00 pagi. 

Ringkasan Berita:
  • Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mempertimbangkan penutupan SPBU antara pukul 22.00 hingga 05.00 pagi untuk menekan konsumsi BBM jika situasi krisis energi kian mendesak
  • Kebijakan ini bertujuan memberikan peringatan psikologis kepada masyarakat bahwa kondisi energi sedang tidak normal, sehingga mendorong mereka untuk lebih proaktif menghemat BBM
  • Krisis energi diprediksi memicu peralihan ke bahan bakar alternatif, di mana permintaan konversi kendaraan ke LPG meningkat dua kali lipat

 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Thailand tengah mempertimbangkan langkah ekstrem guna menekan konsumsi bahan bakar di tengah ketidakpastian pasokan energi global.

Satu langkah di antaranya adalah wacana penutupan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada malam hari guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan krisis energi yang sedang terjadi di Thailand.

Melansir dari Bangkok Post, wacana ini disampaikan oleh Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul pada Senin (20/4/2026)

Dalam pernyataannya, PM Anutin Charnvirakul menyampaikan bahwa otoritas terkait kemungkinan akan memerintahkan SPBU untuk tutup antara pukul 22.00 hingga 05.00 pagi.

Adapun kebijakan ini dipertimbangkan jika situasi krisis energi di Thailand dinilai sudah mencapai tahapan yang mendesak. 

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, ia berjanji akan menerapkan kebijakan ini secara hati-hati agar tidak mengganggu para pengendara dengan profesi tertentu yang membutuhkan pengisian bahan bakar pada larut malam.

Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran mendalam atas cadangan minyak Thailand dan volatilitas harga yang tidak menentu.

Para analis memperingatkan bahwa jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyeret ekonomi negara Gajah Putih tersebut ke jurang stagflasi.

Baca juga: Dulu Krisis Energi, Kini Harga BBM di Filipina Turun hingga 24 Persen

Efek Psikologis bagi Konsumen

Menanggapi wacana dari Anutin, Presiden dan CEO Atlas Energy Plc, Suwatchai Pitakwongsaporn pun buka suara.

Suwatchai menilai bahwa penutupan operasional SPBU pada malam hari akan memberikan dampak yang lebih dari sekadar penghematan teknis.

HEMAT ENERGI - Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Thailand. Untuk menghemat energi Pemerintah Thailand menangguhkan perjalanan ke luar negeri, mengenakan kemeja lengan pendek saat bekerja, dan menggunakan tangga ketimbang memakai lift.
HEMAT ENERGI - Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Thailand. Untuk menghemat energi Pemerintah Thailand menangguhkan perjalanan ke luar negeri, mengenakan kemeja lengan pendek saat bekerja, dan menggunakan tangga ketimbang memakai lift. (HO/IST/Pattaya Mail)

"Penutupan stasiun-stasiun akan memiliki efek psikologis, mengingatkan para pengemudi bahwa situasi saat ini tidak normal dan mendorong mereka untuk menghemat bahan bakar," ujar Suwatchai, yang perusahaannya merupakan pemasok utama Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Thailand.

Meskipun ia mengakui kebijakan ini akan sedikit memangkas angka penjualan ritel minyak, Suwatchai percaya konsumen akan segera beradaptasi dengan melakukan pengisian bahan bakar sebelum waktu penutupan dimulai.

LPG Jadi Solusi Alternatif

Wacana kebijakan terbaru di Thailand ini juga diprediksi Suwatchai akan mempercepat peralihan penggunaan bahan bakar ke energi alternatif.

Berdasarkan data yang dimiliki Atlas Energy, permintaan konversi kendaraan ke LPG melonjak drastis pada Maret 2026. 

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas