Trump Berteriak kepada Para Ajudannya dan Dilarang Masuk Ruang Kendali
Gedung Putih menolak laporan tersebut dan mengatakan Trump "tetap menjadi pemimpin yang tenang yang dibutuhkan negara".
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump berteriak-teriak kepada para ajudannya selama berjam-jam setelah mengetahui dua pilot Amerika hilang ketika sebuah pesawat F-15 Eagle ditembak jatuh di Iran pada 3 April lalu.
- Dia tidak diikutsertakan dalam briefing penting di ruang perang, lapor WSJ.
- Gedung Putih membantah laporan tersebut dengan mengatakan Trump "tetap menjadi pemimpin yang tenang yang dibutuhkan negara."
TRIBUNNEWS.COM, AS - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berteriak-teriak kepada para ajudannya selama berjam-jam setelah mengetahui bahwa dua pilot Amerika hilang saat pesawat tempurnya F-15 Eagle ditembak jatuh di langit Iran pada 3 April 2026 lalu.
Dalam situasi emosional, Trump kemudian tidak diikutsertakan dalam briefing penting di ruang kendali perang, demikian dilaporkan The Wall Street Journal (WSJ), Senin (20/4/2026), mengutip pejabat senior pemerintahan.
Gedung Putih menolak laporan tersebut dan mengatakan Trump "tetap menjadi pemimpin yang tenang yang dibutuhkan negara".
Jatuhnya jet F-15 Amerika memicu misi penyelamatan berisiko tinggi.
Satu anggota kru dengan cepat diselamatkan oleh pasukan AS setelah melontarkan diri sebelum pesawat jatuh.
Namun anggota kru kedua tetap terperangkap di belakang garis musuh selama lebih dari 24 jam, memicu perlombaan melawan waktu untuk menemukan dan mengevakuasi sang pilot sebelum pasukan Iran dapat menemukannya.
"Di Washington kekhawatiran Trump tentang bagaimana konflik itu berkembang semakin meningkat," menurut laporan WSJ.
Trump dikatakan terobsesi dengan persamaan antara konflik tersebut dengan krisis sandera Iran, salah satu krisis kebijakan luar negeri AS yang paling signifikan, yang gambarannya "terbayang-bayang" di benaknya.
Situasi kian memburuk
Saat situasi memburuk, para pejabat senior, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, terhubung ke Ruang Situasi untuk mendapatkan pembaruan menit demi menit selama 24 jam berikutnya.
Trump tidak termasuk dalam pertemuan-pertemuan ini.
Sebaliknya, ia hanya diberi informasi pada "momen-momen penting" melalui panggilan telepon.
"Para ajudan sengaja menjauhkannya dari ruangan kendali karena percaya bahwa ketidaksabarannya tidak akan membantu selama pengambilan keputusan operasional secara langsung," kata para pejabat kepada WSJ.
Namun, Gedung Putih membantah penggambaran tersebut.
Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengatakan kepada WSJ bahwa Trump "tetap menjadi pemimpin yang teguh yang dibutuhkan negara".
Dia menambahkan bahwa operasi tersebut sejalan dengan tujuan yang dinyatakannya untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Baca tanpa iklan