Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

5 Populer Internasional: AS Serang dan Sita Kapal Berbendera Iran - Harga Minyak Kembali Naik

Rangkuman berita populer internasional, di antaranya AS menyerang dan menyita kapal berbendera Iran di dekat Selat Hormuz

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in 5 Populer Internasional: AS Serang dan Sita Kapal Berbendera Iran - Harga Minyak Kembali Naik
CENTCOM
BERITA POPULER INTERNASIONAL - Tangkap layar video yang diunggah CENTCOM memperlihatkan kapal perusak berpeluru kendali USS Spruance (DDG 111) mencegat M/V Touska milik Iran, 19 April 2026. Marinir AS kemudian menaiki dan menyita kapal tersebut. (X CENTCOM) 
Ringkasan Berita:
  • AS menyerang dan menyita kapal berbendera Iran di dekat Selat Hormuz sehingga memicu tuduhan pelanggaran gencatan senjata dari Iran
  • Iran menolak negosiasi di bawah tekanan dan menegaskan hak strategisnya di Selat Hormuz. 
  • Ketegangan tersebut membuat harga minyak dunia naik tajam hingga berdampak pada negara Asia dan Eropa.

TRIBUNNEWS.COM - Konflik yang terjadi di Iran masih menjadi sorotan dunia dalam kurun 24 jam terakhir.

AS menyerang dan menyita kapal berbendera Iran, disebut coba hindari blokade di dekat Selat Hormuz.

Iran pun menolak negosiasi dengan AS di bawah tekanan dan menegaskan akan tetap mempertahankan hak strategisnya.

Sementara itu, harga minyak dunia naik pada perdagangan awal, Minggu (19/4/2026), karena kebuntuan antara Iran dan AS.

Berikut berita selengkapnya.

1. AS Serang dan Sita Kapal Berbendera Iran, Disebut Coba Hindari Blokade di Dekat Selat Hormuz

Amerika Serikat (AS) menyerang dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran, Minggu (19/4/2026).

Menurut AS, kapal kargo berbendera Iran telah mencoba menghindari blokade angkatan laut di dekat Selat Hormuz.

Rekomendasi Untuk Anda

Menanggapi serangan AS, komando militer gabungan Iran bersumpah untuk membalas.

Buntut serangan AS itu, menimbulkan pertanyaan tentang gencatan senjata yang rapuh beberapa hari sebelum berakhir.

Saat ini, para mediator berupaya memperpanjang gencatan senjata yang akan berakhir pada Rabu (22/4/2026).

Presiden AS Donald Trump melalui media sosial mengatakan bahwa kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS di Teluk Oman memperingatkan kapal berbendera Iran, Touska, untuk berhenti dan kemudian "menghentikan mereka tepat di tempatnya dengan membuat lubang di ruang mesin."

"Marinir AS telah menahan kapal yang dikenai sanksi AS tersebut dan sedang memeriksa apa yang ada di dalamnya," kata Trump, Minggu, dilansir AP News.

Sementara, Komando Pusat AS, yang tidak menjawab pertanyaan, mengatakan bahwa kapal perusak tersebut telah mengeluarkan "peringatan berulang kali selama periode enam jam."

Iran Tuduh AS Langgar Gencatan Senjata

Komando militer gabungan tertinggi Iran, Khatam al-Anbiya, menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menembaki salah satu kapal dagang Iran di Teluk Oman, dan bersumpah akan membalas.

Media pemerintah mengutip juru bicara Khatam Al-Anbiya yang mengatakan pada Senin (20/4/2026) pagi bahwa kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari China ke Iran.

“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera menanggapi dan membalas pembajakan bersenjata oleh militer AS ini,” kata juru bicara tersebut.

Diberitakan Arab News, insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang tinggi di Selat Hormuz, jalur vital untuk minyak dan gas alam cair dunia, yang praktis tertutup sejak dimulainya perang AS-Israel dengan Iran tujuh minggu lalu.

Iran sempat membuka kembali selat tersebut pada Jumat (17/4/2026) sebagai pengakuan atas gencatan senjata Israel-Hizbullah di Lebanon, tetapi menutupnya kembali pada hari berikutnya sebagai tanggapan atas blokade yang dipertahankan AS terhadap kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan Iran.

Trump mengatakan Touska berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS "karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya."

Kapal Touska terdaftar di situs web Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan sebagai kontainer berbendera Iran yang dikenai sanksi AS.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Iran Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan AS, Tegaskan Punya Hak di Selat Hormuz hingga Ejek Trump

Iran menegaskan sikap kerasnya terhadap Amerika Serikat (AS)-Israel dengan menolak segala bentuk negosiasi yang berlangsung di bawah tekanan. 

Pernyataan ini disampaikan anggota parlemen Iran, Rouhollah Izadkhah, yang merujuk pada arahan Pemimpin Revolusi dan Republik Iran Sayyed Motjaba Khamenei.

“Jika negosiasi terjadi, kita akan memasukinya dari posisi yang kuat dan dengan keyakinan penuh pada angkatan bersenjata kita,” ujar Izadkhah, mengutip Al Mayadeen, Senin (20/4/2026).

Ia juga menyampaikan bahwa Iran siap menghadapi Presiden AS, Donald Trump, beserta sekutunya di kawasan. 

Menurutnya, tujuan negosiasi bukan untuk mengalah, melainkan agar Washington memahami posisi Teheran.

Lebih lanjut, Izadkhah menegaskan sikap tegas negaranya terkait kepentingan strategis. 

“Kami tidak akan berkompromi dengan siapa pun, dan kami bersikeras pada hak-hak kami di Selat Hormuz.”

“Kami akan menetapkan kerangka kerja khusus untuk mengaturnya sesuai dengan hukum internasional,” ujarnya.

Ia juga mengejek kebijakan blokade yang diberlakukan Trump di Selat Hormuz sebagai pertunjukan yang gagal, dan menilai bahwa AS tidak berani melakukan serangan langsung terhadap Iran.

Sementara itu, kantor berita resmi Iran, (IRNA), membantah laporan mengenai adanya putaran kedua negosiasi (Iran dan AS-Israel) di Islamabad. 

IRNA menegaskan bahwa laporan tersebut “tidak benar” dan menyebut bahwa hingga kini belum ada keputusan untuk melanjutkan dialog dengan Washington.

IRNA juga menyoroti sikap AS yang dinilai tidak konsisten. 

IRNA menyebut maksimalisme dan tuntutan yang berlebihan dan tidak realistis,serta perubahan posisi yang terus terjadi menjadi penghambat utama.

Dalam kondisi tersebut, IRNA menegaskan, tidak ada prospek yang jelas untuk negosiasi yang membuahkan hasil.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. Pergerakan Senyap AS Pindahkan Baterai Rudal THAAD di Yordania Dibongkar China lewat Citra Satelit

Pergerakan militer Amerika Serikat di Timur Tengah kembali menjadi sorotan global setelah sistem pertahanan rudal canggihnya terungkap oleh citra satelit komersial China.

Di tengah gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran, Pentagon diam-diam memindahkan baterai THAAD dan Patriot di wilayah Yordania.

Namun, langkah senyap tersebut justru terbongkar, menandai babak baru persaingan antara Amerika Serikat, Iran, dan China dalam perang modern berbasis rudal dan intelijen luar angkasa.

Citra satelit resolusi tinggi yang dirilis pada 19 April memperlihatkan secara detail lokasi baru peluncur, radar, serta kendaraan pendukung militer AS.

Temuan ini memperkuat fakta bahwa bahkan dalam kondisi gencatan senjata, pergerakan militer skala besar tetap sulit disembunyikan di era pengawasan satelit canggih.

Seorang analis pertahanan Barat menyebut, “Setiap langkah militer besar sekarang terjadi di bawah pengawasan konstan dari luar angkasa.”

Pemindahan sistem pertahanan ini bukan tanpa alasan. Serangan balasan Iran pada Maret lalu dilaporkan merusak instalasi THAAD di sekitar Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania.

Radar utama AN/TPY-2 yang menjadi “mata” sistem tersebut mengalami kerusakan signifikan, sehingga memaksa Amerika Serikat mengevaluasi ulang strategi pertahanannya di kawasan.

Gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai 8 April—dengan mediasi Pakistan—memberikan ruang bagi Pentagon untuk memperbaiki sekaligus merelokasi sistem pertahanan tersebut.

Alih-alih kembali ke posisi lama, militer AS memilih menyebarkan sistem secara lebih tersebar untuk mengurangi risiko kehancuran total akibat satu serangan besar.

“Ini bukan sekadar reposisi taktis, tetapi bagian dari desain ulang pertahanan regional,” ujar seorang sumber militer yang mengetahui operasi tersebut. Ia menambahkan bahwa penyebaran sistem secara terpisah bertujuan “membingungkan penargetan musuh dan meningkatkan daya tahan operasional.”

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Harga Minyak Kembali Naik Imbas Kebuntuan AS-Iran soal Selat Hormuz, Negara di Asia-Eropa Terdampak

Harga minyak dunia naik pada perdagangan awal, Minggu (19/4/2026), karena kebuntuan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mencegah kapal tanker menggunakan Selat Hormuz, jalur air Teluk Persia yang sangat penting bagi pasokan energi global.

Harga minyak mentah AS naik 6,4 persen menjadi $87,90 per barel satu jam setelah perdagangan dilanjutkan di Chicago Mercantile Exchange.

Lalu, harga minyak mentah Brent, standar internasional, naik 5,8 persen menjadi $95,64 per barel.

Reaksi pasar tersebut menyusul lebih dari dua hari harapan yang meningkat dan kekecewaan terkait Selat Hormuz.

Harga minyak mentah anjlok lebih dari 9 persen pada Jumat (17/4/2026) setelah Iran mengatakan akan sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz, yang secara efektif dikuasainya, untuk lalu lintas komersial.

Teheran membatalkan keputusan itu dan menembaki beberapa kapal pada Sabtu (18/4/2026) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku.

Pada Minggu, Trump mengatakan AS menyerang dan secara paksa menyita kapal kargo berbendera Iran yang diduga mencoba menghindari blokade tersebut.

Selanjutnya, komando militer gabungan Iran bersumpah akan membalas.

Negara di Asia dan Eropa Terdampak

Kenaikan harga minyak pada Minggu menghapus sebagian besar penurunan yang terlihat pada Jumat, menandakan munculnya kembali keraguan tentang seberapa cepat kapal akan kembali mengangkut sejumlah besar minyak yang diperoleh dunia dari Timur Tengah.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Tembak Mati 7 Anak Kandungnya, Pria AS Tewas Ditembak Polisi saat Larikan Diri

Seorang pria sekaligus ayah di Louisiana, Amerika Serikat (AS), bernama Shamar Elkins (31), menembak mati delapan bocah, termasuk tujuh anak kandungnya, pada Minggu (19/4/2026) waktu setempat.

Dikutip dari Associated Press (AP), pelaku tidak hanya menembak anaknya tetapi juga dua wanita di mana salah satunya adalah istrinya. Akibatnya, korban mengalami luka kritis.

Juru bicara Kepolisian Shreveport, Chris Bordelon, mengungkapkan seluruh korban anak yang tewas berada dalam rentang usia 3-11 tahun.

Dilansir CNN, korban teridentifikasi berinisal JE (3), SE (5), KP (6), LP (7), MP (10), SS (11), KS (6), dan BS (15)

Dia mengatakan pelaku juga tewas setelah dirinya ditembak oleh polisi saat berusaha melarikan diri.

Menurut penyelidikan sementara, diduga motif aksi brutal Elkins adalah karena masalah keluarga.

"Saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa, hati saya benar-benar terkejut. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana peristiwa seperti ini bisa terjadi," kata Bordelon.

Dia mengungkapkan peristiwa bermula ketika pada Minggu pagi, Elkins tiba-tiba menembak seorang wanita di salah satu rumah di lingkungan Shreveport, Louisiana.

Lalu, pelaku berpindah ke rumah kedua dan menembak tujuh anak. Lalu satu anak ditemukan tewas di atap yang diduga ditembak saat akan melarikan diri.

Di sisi lain, ada seorang anak yang juga melompat dari atap rumah tersebut dan diperkirakan selamat setelah dibawa ke rumah sakit.

Pada kesempatan yang sama, anggota DPR AS dari Louisiana, Tammy Phelps, menyebut beberapa anak sempat berusaha melarikan diri melalui pintu belakang rumah sebelum ditembak secara brutal oleh Elkins.

"Saya bahkan tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya dihadapi oleh petugas polisi dan tim tanggap darurat saat mereka tiba di sini hari ini," katanya dalam konferensi pers.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas