Pasukan Iran Siaga 100 Persen, Siap Serang Target yang Ditentukan jika AS Lancarkan Serangan Baru
Iran segera menyerang target yang telah ditentukan sebelumnya jika Amerika Serikat melancarkan serangan baru.
Penulis:
Nuryanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Pasukan Iran disebut telah lama berada dalam keadaan siaga 100 persen.
- Iran segera menyerang target yang telah ditentukan sebelumnya jika Amerika Serikat melancarkan serangan baru.
- Tanggapan Iran menyusul ancaman berulang kali oleh Presiden AS Donald Trump dan para komandan militer Amerika.
TRIBUNNEWS.COM - Militer Iran mengatakan, mereka akan segera menyerang target yang telah ditentukan sebelumnya jika Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru apa pun terhadap negara itu.
Peringatan itu disampaikan dalam pernyataan oleh Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Rabu (22/4/2026).
Tanggapan Iran menyusul apa yang Zolfaghari sebut sebagai ancaman berulang kali oleh Presiden AS Donald Trump dan para komandan militer Amerika.
“Pasukan kita yang cakap dan kuat telah lama berada dalam keadaan siaga 100 persen dan siap serta siaga untuk bertindak,” kata Zolfaghari, Rabu, dilansir Anadolu Agency.
Zolfaghari menambahkan, jika terjadi “agresi dan tindakan apa pun terhadap Republik Islam Iran,” pasukan Iran akan “segera dan dengan dahsyat menyerang target yang telah ditentukan.”
Pernyataan itu disampaikan setelah Trump mengatakan pada Selasa (21/4/2026) bahwa Amerika Serikat akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran menyusul permintaan dari pejabat Pakistan dan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku.
Trump mengatakan dia telah mengarahkan militer AS untuk mempertahankan blokade dan memperpanjang gencatan senjata sampai Teheran menyerahkan apa yang disebutnya sebagai "proposal terpadu."
Iran Tak Mau Kirim Delegasi
Gencatan senjata AS dan Iran selama 14 hari, berakhir pada Rabu (22/4/2026).
Namun, pada Selasa, kantor berita semi-resmi Tasnim mengatakan Iran telah memberitahu Pakistan mereka tidak akan mengirim delegasi untuk berdialog dengan AS.
“Terlepas dari semua pemberitaan media dan spekulasi oleh pejabat AS, tim negosiasi Iran, karena berbagai alasan, telah memberitahu pihak Amerika, melalui Pakistan, bahwa mereka tidak akan menghadiri pembicaraan pada hari Rabu di Islamabad,” lapor Tasnim.
“Untuk saat ini, tidak ada prospek untuk berpartisipasi dalam pembicaraan,” kata laporan itu.
Baca juga: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu, tapi Iran Tak Mau Hadiri Pembicaraan dengan AS
Sementara itu, perpanjangan gencatan senjata disebut sebagai "taktik untuk mengulur waktu" demi serangan mendadak, kata seorang penasihat ketua parlemen dan negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf.
Penasihat Qalibaf mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa kelanjutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran "tidak berbeda dengan pemboman dan harus ditanggapi dengan respons militer."
Ribuan orang telah tewas sejak perang dimulai di berbagai negara di Timur Tengah, dan ekonomi global telah terguncang oleh penutupan Selat Hormuz, jalur vital untuk minyak dan gas.
AS-Iran Berpegang Teguh pada Retorika Mereka
Sebelum mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, Trump telah memperingatkan bahwa "banyak bom" akan "mulai meledak" jika tidak ada kesepakatan sebelum batas waktu hari Rabu.
Baca tanpa iklan