Bayang-Bayang Kegagalan di Vietnam Hantui Pasukan Amerika di Perang Iran
Perang melawan Iran saat ini mencerminkan situasi kegagalan Pasukan Amerika saat Perang Vietnam. Kenapa keunggulan senjata menjadi tak berarti?
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Bayang-Bayang Kegagalan di Vietnam Hantui Pasukan Amerika di Perang Iran
TRIBUNNEWS.COM - Majalah Foreign Policy memberikan ulasan seputar aksi militer Amerika Serikat di Iran dan faktor-faktor penentu dari ujung konflik tersebut.
Media tersebut menyatakan, konflik saat ini antara Amerika dan Iran tidak sepenuhnya seperti Perang Vietnam.
Meski begitu, situasi yang berkembang semakin mencerminkan dinamika strategis yang menyebabkan kegagalan Amerika Serikat dalam perang Vietnam pada tahun 1970-an.
Baca juga: Armada Nyamuk Iran Bikin Pusing Angkatan Laut AS di Hormuz: Ribuan Kapal Serang Cepat Susah Dilacak
Dalam sebuah artikel yang mengulas hal tersebut, penulis Michael Hirsch mengatakan kalau Iran secara efektif telah "menentukan kecepatan" dalam konflik yang berlangsung.
Artinya, Iran mampu mengendalikan konflik dengan 'pace' yang mereka tentukan, kapan harus nge-gas dan kapan harus 'cooling down'.
Apa yang diperlihatkan Iran ini, kata sang penulis, mengadopsi strategi yang mirip dengan strategi pemimpin Vietnam, Ho Chi Minh dan sekutunya.
Strategi Vietnam ini, yang kalah telak dari segi personel dan persenjataan, mampu mengalahkan Amerika melalui kesabaran, daya tahan, dan tekanan politik.
"Vietnam mampu menglahkan AS bukan melalui keunggulan militer langsung," katanya.
Persamaan Situasi Perang Vietnam dan Perang Iran
Hersh menekankan, tekanan psikologis dan strategis yang dihadapi Amerika Serikat dalam perang saat ini melawan Iran sangat mirip dengan tekanan yang membingungkan kepemimpinan Amerika pada tahun 1960-an selama Perang Vietnam.
Kesamaan utama terletak pada ketidakseimbangan antara kepentingan kedua belah pihak dan jangka waktu yang mereka inginkan; Iran tampaknya bersedia menanggung perang yang panjang, sementara Amerika Serikat menginginkan hasil yang cepat, yang akibatnya membuatnya lebih rentan terhadap tekanan politik dan ekonomi internal.
"Tidak mungkin ada negosiasi di bawah tekanan dan inti dari perbandingan ini terletak pada penolakan Iran untuk bernegosiasi di bawah tekanan tersebut," kata Hersh.
Penulis juga membandingkan sikap Iran ini dengan strategi Vietnam Utara, mencatat kalau Ho Chi Minh dan Le Duan berulang kali menolak tawaran Amerika hingga operasi-operasi pengeboman berhenti.
Penulis mengutip Ho Chi Minh, yang mengatakan kalau orang Vietnam "tidak akan pernah menerima negosiasi di bawah ancaman bom," menunjukkan bahwa Teheran mengadopsi sikap serupa saat ini.
Para pejabat Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, telah menyatakan pandangan ini, dengan menyatakan kalau Iran tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman.
Baca tanpa iklan