Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

UEA Keluar dari OPEC, Ini Artinya bagi Industri Minyak Global

UEA memutuskan keluar dari OPEC untuk meningkatkan produksi minyak dan kepentingan ekonominya.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Endra Kurniawan

Ringkasan Berita:
  • UEA memutuskan keluar dari OPEC untuk meningkatkan produksi minyak dan kepentingan ekonominya.
  • Keputusan ini dipengaruhi faktor bisnis dan politik, termasuk ketegangan dengan Arab Saudi dan konflik Iran.
  • Langkah tersebut berpotensi mengubah dinamika pasar minyak global dan geopolitik kawasan Teluk.

TRIBUNNEWS.COM - Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan akan meninggalkan OPEC per 1 Mei 2026, menurut laporan Associated Press.

OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) atau Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak adalah organisasi internasional yang bertujuan mengatur kebijakan produksi minyak agar harga tetap stabil dan adil.

Mengutip situs resminya, OPEC berdiri pada 14 September 1960 di Baghdad, Irak, dengan lima negara pendiri, yakni Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela.

Saat ini, OPEC berkantor pusat di Wina, Austria, dan masih menjadi salah satu aktor utama dalam pasar energi dunia.

Keputusan UEA keluar dari OPEC telah dirumorkan sejak beberapa waktu lalu.

Dalam beberapa tahun terakhir, UEA menolak kuota produksi OPEC yang dianggap terlalu rendah, sehingga mereka tidak dapat menjual minyak sebanyak yang diinginkan ke pasar global.

Rekomendasi Untuk Anda

“Setelah berinvestasi besar-besaran dalam perluasan kapasitas produksi energi dalam beberapa tahun terakhir, gambaran besarnya adalah UEA sangat ingin memompa lebih banyak minyak,” tulis Capital Economics dalam sebuah analisis.

“Ikatan yang mengikat anggota OPEC telah melemah, terutama setelah Qatar menarik diri dari kartel pada tahun 2019.”

Faktor politik regional juga kemungkinan berperan.

Mengutip analisis dari The Guardian, keputusan UEA untuk keluar dari OPEC merupakan langkah politik sekaligus bisnis, dan berpotensi kembali menyulut perselisihan lama antara UEA dan Arab Saudi.

Ketegangan tersebut sebelumnya tertutupi oleh kemarahan bersama terhadap Iran atas serangan-serangan terhadap negara-negara Teluk sejak dimulainya perang AS-Israel di Teheran.

Baca juga: Keluar dari OPEC dan OPEC+, Uni Emirat Arab Janji Tak Ugal-ugalan Geber Produksi Minyak

Dalam jangka pendek, keluarnya UEA dari kartel penghasil minyak yang diikutinya sejak 1967 itu memberi kebebasan bagi negara tersebut untuk merespons prospek pasokan jangka panjang yang terbatas dan memaksimalkan keuntungan.

Namun, keputusan ini sebenarnya telah lama dipertimbangkan, mengingat ketegangan antara UEA dan Arab Saudi terkait kuota produksi sudah berlangsung lama.

Keluarnya UEA juga dinilai sebagai pukulan bagi Arab Saudi karena dapat melemahkan kemampuannya dalam mengendalikan harga minyak, sekaligus mendekatkan posisi UEA dengan Donald Trump, yang dikenal sebagai kritikus OPEC.

Pengumuman tersebut, yang dilakukan tanpa konsultasi sebelumnya, muncul saat Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang beranggotakan enam negara, termasuk Arab Saudi dan UEA, tengah menggelar sesi darurat di Jeddah, untuk pertama kalinya sejak serangan Iran.

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas