Tim Penyelamat di Lebanon Selatan Diserang Israel, Tiga Petugas Terjebak Reruntuhan
Serangan udara Israel di Lebanon selatan kembali menuai kecaman setelah menargetkan tim penyelamat.
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Tiga anggota pertahanan sipil Lebanon terjebak reruntuhan saat misi penyelamatan akibat serangan Israel di Majdal Zoun.
- Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam serangan yang dinilai melanggar hukum internasional dan menargetkan petugas kemanusiaan.
- Serangan terjadi meski ada gencatan senjata yang diumumkan AS; korban tewas telah mencapai lebih dari 2.500 orang sejak Maret.
TRIBUNNEWS.COM - Tiga anggota Badan Pertahanan Sipil Lebanon terjebak di bawah reruntuhan akibat serangan Israel saat menjalankan misi penyelamatan di wilayah selatan negara itu, Selasa malam (28/4/2026).
Dalam pernyataannya, badan tersebut menyebut bahwa serangan terjadi di kota Majdal Zoun ketika tim tengah memberikan bantuan medis kepada korban luka akibat serangan udara sebelumnya.
“Personel pertahanan sipil menjadi sasaran saat melakukan misi penyelamatan dan medis bagi orang-orang yang terluka dalam serangan udara Israel di kota Majdal Zoun,” demikian pernyataan resmi yang dirilis Badan Pertahanan Sipil Lebanon.
Disebutkan pula bahwa tiga anggota tim penyelamat kini masih tertimbun reruntuhan bangunan akibat serangan tersebut.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam keras insiden itu.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui platform X, ia menilai serangan tersebut sebagai bagian dari pola pelanggaran hukum internasional oleh Israel, mengutip Al Mayadeen, Rabu (29/4/2026).
“Serangan itu menambah serangkaian serangan yang menargetkan petugas bantuan dan ambulans, yang menunjukkan bahwa Israel terus melanggar hukum dan konvensi internasional,” ujar pihak kepresidenan mengutip pernyataan Presiden Lebanon, Joseph Aoun.
Baca juga: Mossad Israel Klaim Menembus Operasi di Iran dan Lebanon, Akui Peroleh Intelijen Berharga
Serangan saat Gencatan Senjata
Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata sementara yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada 17 April lalu.
Awalnya berlangsung selama 10 hari, gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang selama tiga minggu.
Namun, menurut pemerintah Lebanon, serangan masih terus berlangsung.
Data resmi mencatat bahwa sejak 2 Maret 2026, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 2.534 orang, melukai 7.863 lainnya, serta memaksa lebih dari 1,6 juta warga mengungsi.
Situasi ini semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di Lebanon selatan, sekaligus menimbulkan pertanyaan atas efektivitas dan kepatuhan terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati.
(*)
Baca tanpa iklan