Trump Diprediksi Cari Celah Perpanjangan Perang Iran-AS, Potensi Buat Krisis Global
Di tengah tekanan politik dan militer, Presiden AS diperkirakan akan memperpanjang konflik dengan Iran.
Penulis:
garudea prabawati
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Trump diprediksi akan memperpanjang operasi militer terhadap Iran meski mendekati batas hukum.
- Analis menyebut serangan awal sebagai salah perhitungan dan memperingatkan risiko eskalasi besar.
- Ketegangan di Selat Hormuz dan langkah militer AS berpotensi memicu krisis ekonomi global.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diperkirakan tidak akan mundur dari konflik dengan Iran.
Sebaliknya, ia disebut tengah mencari cara untuk memperpanjang keterlibatan militer meskipun langkah tersebut berpotensi melampaui batas hukum yang berlaku.
Pensiunan Letnan Kolonel Angkatan Darat AS, Earl Rasmussen, menggambarkan posisi Trump saat ini dalam situasi tanpa kemenangan.
Ia menilai presiden menghadapi tekanan politik besar, baik dari dalam negeri maupun sekutu internasional.
“Jika Trump menarik pasukan keluar, itu tidak akan terlihat bagus secara politik. Dia mungkin menggandakan dan maju dengan ancamannya,” ujar Rasmussen, mengutip Al Mayadeen, Rabu (29/4/2026).
Namun, ia memperingatkan bahwa langkah tersebut justru berisiko memperburuk situasi.
Rasmussen bahkan menyebut keputusan awal untuk menyerang Iran salah perhitungan besar.
Menurutnya, ekspektasi bahwa Iran akan menyerah di bawah tekanan militer dan ekonomi terbukti tidak realistis.
Baca juga: 6 Kapal Tanker Iran Dipaksa Putar Balik, Blokade AS Bikin Selat Hormuz Nyaris Lumpuh
Sebaliknya, konflik justru berpotensi meluas akibat tekanan lanjutan dari sekutu seperti Israel dan kelompok politik di AS yang mendukung garis keras.
Lebih jauh, ia menilai Washington kini berusaha menghindari apa yang tampak sebagai kemunduran strategis.
“AS sedang mencari cara untuk menghindari kekalahan, tetapi kemungkinan tetap harus menghadapinya,” katanya.
Risiko Ekonomi Global
Selain dimensi militer, risiko ekonomi global juga menjadi sorotan serius. Rasmussen memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat memicu resesi global atau bahkan depresi ekonomi.
Salah satu faktor utama adalah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia.
Baca tanpa iklan